YUUSUF (21)
Surah Yuusuf Ayat 88-93
BAGIAN LIMA BELAS:
ANAK-ANAK YA’QUB BARU MENGENAL YUSUF DAN MEREKA MENGAKU BERSALAH, YUSUF PUN MEMAAFKANNYA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Kandungan isi ayat-ayat di atas adalah sebagai berikut.
1. Mengadu di kala lapar boleh, bahkan wajib bagi seseorang yang takut binasa karena miskin untuk menunjukkan keadaannya kepada orang yang dianggap mampu menolongnya, sebagaimana wajibnya seorang pasien mengeluhkan sakit kepada dokter agar diperiksa. Hal ini tidak bertentangan dengan prinsip tawakal sama sekali.
Mengadu boleh hukumnya, jika tidak disertai dengan kemarahan, namun akan lebih baik jika menghadapinya dengan sabar dan menerima. Sebaik-baik aduan ketika mendapat musibah adalah dengan memohon agar musibah itu dihilangkan sebagaimana aduan Nabi Ya’qub, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya." Maksudnya, dari kebaikan dan kelembutan Allah terhadap makhluk-Nya. Adapun pengaduan yang ditujukan kepada orang yang tidak mampu menghilangkan musibah, maka pengaduan tersebut hanyalah siasia belaka, kecuali sekadar meringankan sedikit beban.
2. Diperbolehkannya meminta tambahan atas suatu hak dengan dasar sedekah. Menurut *Mujahid* , sedekah tidak diharamkan kecuali kepada Nabi Muhammad saw.. Diriwayatkan oleh *Ibnu Jarir* bahwa suatu hari Sufyan bin Uyainah ditanya, "Apakah sedekah itu diharamkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad saw.? Sufyan menjawab, "Apakah engkau tidak mendengar firman Allah: (فَأَوْفِ لَنَا ٱلْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَجْزِى ٱلْمُتَصَدِّقِينَ)
3. *Imam Malik* dan ulama lainnya berpendapat bahwa upah tukang timbang atau takar itu dibebankan kepada penjual karena saudara-saudara Yusuf berkata (فَأَوْفِ لَنَا ٱلْكَيْلَ) Di sini posisi Yusuf sebagai penimbang. Demikian juga dengan penimbang, penghitung, dan sejenisnya, karena kewajiban seorang penjual adalah menyerahkan barang dan memisahkannya dari yang lainnya. Kecuali, jika menjual sesuatu yang tidak perlu ditakar, dihitung, ataupun ditimbang. Penjual juga tidak berhak menerima uang kecuali setelah dia memenuhi permintaan barang dagangan dengan ditimbang ataupun ditakar. Penjual juga berkewajiban untuk mengupah orang yang dia minta untuk memeriksa uang atau barang barter dari para pembeli untuk menentukan nilai barang tersebut.
Makruh hukumnya bagi seseorang berdoa dengan ucapan, "Ya Allah berilah sedekah kepadaku." Doa seperti ini makruh karena sedekah hanya dari orang yang mengharapkan pahala, sedangkan Allah itu tidak membutuhkan pahala dengan segala nikmat-Nya.
4. Pengambilan hukum dari ucapan dan isyarat seseorang, karena Yusuf mengajukan pertanyaan untuk mengingatkan dan mencela (perbuatan) saudara-saudaranya, _“Apakah kalian ingat apa yang kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya?"_ pertanyaan ini membuat mereka paham bahwa yang mereka ajak bicara adalah Yusuf. Kemudian mereka balik bertanya dengan tegas (أَءِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُ ۖ) _Apakah engkau Yusuf?”_
Kalimat "Ketika kalian bodoh" yang diucapkan Yusuf menunjukkan bahwa ketika itu mereka masih muda dan mereka bukan nabi, dan sekarang mereka sudah lebih baik. Setelah itu, Yusuf berkata ( أَنَا۠ يُوسُفُ), _"Benar, aku adalah Yusuf.”_
*Ibnu Abbas* berkata, "Ya’qub menulis surat kepada Yusuf perihal pengembalian anaknya. _“Dari Ya’qub, Shofiyullah bin Ishaq bin Ibrahim, teruntuk Aziz Mesir. Kami adalah keluarga yang sering mendapatkan ujian dan musibah. Kakekku, Ibrahim diuji Allah dengan Namrudz dan apinya. Ayahku, Ishaq diuji dengan disembelih, dan kemudian Allah mengujiku dengan hilangnya anakku tercinta sehingga kedua mataku menjadi buta karena seringnya menangis meratapi kesedihan. Dan sungguh, aku tidak pernah mencuri, apalagi melahirkan seorang pencuri. Wassalam.”_
Setelah membaca surat tersebut, Yusuf gemetar, kedua matanya berkaca-kaca dan akhirnya membuka rahasianya sendiri.
Kemudian, ia juga menambahkan nikmat Allah yang telah ia terima, (قَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْنَآ ۖ) Maksudnya, bersatu kembali setelah berpisah dengan kemuliaan setelah penderitaan, dan dengan keselamatan dan kerajaan.
5. Sesungguhnya orang yang bertakwa kepada Allah, selalu mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar menahan diri dari perbuatan maksiat, Allah pasti akan menyiapkan pahala amalnya dan tidak akan menyia-nyiakan amal tersebut.
6. Mengakui kesalahan dan dosa adalah jalan untuk mendapatkan pengampunan dan kata maaf. Ucapan saudara-saudara Yusuf ( وَإِن كُنَّا لَخَـٰطِـِٔينَ) terselip di dalamnya permintaan maaf, dan mereka telah mendapatkannya.
Tidak ada penghalang untuk mendapatkan kata maaf meskipun dari kesalahan yang disengaja. Siapa saja yang mengerjakan perbuatan dosa melampaui jalan yang benar, ia telah terperangkan dalam syubhat dan maksiat.
7. Allah bersaksi bahwa Yusuf termasuk orang-orang yang baik, sabar, dan takwa. Cukup kesaksian tersebut menjadi kemuliaannya dan juga sekaligus menjadi contoh nyata bagi kita pendidikan dan pelatihan.
8. Jawaban Yusuf (لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ ٱلْيَوْمَ ۖ) _"Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu,"_ merupakan contoh teladan dalam memberikan maaf tanpa cercaan dan makian, padahal memiliki kemampuan untuk membalas dan memberikan hukuman dan pengampunan tanpa rasa iri, dengki, dan marah. Selain itu, pengampunan tersebut disertai doa agar mereka mendapatkan ampunan dari Allah atas dosa-dosa mereka, dan agar mendapatkan rahmat di dunia dan akhirat. Semua yang dilakukan Yusuf berdasarkan wahyu, karena segala anugerah berasal dari Allah SWT.
Hal ini pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. saat peristiwa _Fathu Mekah_ dengan memberikan pengampunan bagi kaum Quraisy.
*Ibnu Mardawaih* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas*, dan *Baihaqi* dari *Abu Hurairah* bahwa *Rasulullah saw*. pada waktu _Fathu Makkah_ mengambil tempat di samping pintu Ka'bah menghadapi penduduk Quraisy seraya bersabda setelah diawali dengan pujian kepada Allah, _“Apa perkiraanmu yang akan saya perbuat terhadap kalian."_ Mereka menjawab: "Kami hanya menyangka yang baik saja, saudara yang mulia dan anak saudara yang mulia." Nabi saw. bersabda, _“Saya akan mengatakan sebagaimana yang telah dikatakan oleh saudara saya, Yusuf, (لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ ٱلْيَوْمَ ۖ) _“Tidak ada celaan, cercaan dan kekerasan sekarang ini."_ Keluarlah para tawanan itu (meninggalkan tempat) seakan-akan mereka dibangkitkan dari kubur.
*Imam Atha’ al-Khurasani* berkata, "Pemberian maaf dari pemuda lebih mudah daripada orang yang sudah lanjut usia. Lihat dan bandingkan antara ucapan Yusuf dan ucapan Ya’qub. Yusuf berkata, (لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ ٱلْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ) _“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang"._ Sedangkan Ya’qub menjawab ketika anak-anaknya minta maaf, (سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي) _“Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku."_
9. Sedikit kebahagiaan yang memulihkan penglihatan Ya’qub ketika menerima pakaian Yusuf. Pakaian itu menurut pendapat yang _shahih_, dari *Anas*, dari *Rasulullah saw*., sebagaimana yang diungkapkan oleh *Al-Qusyairi*, pakaian yang dipakai Nabi Ibrahim ketika beliau dibakar di dalam api. Pakaian itu diwariskan secara turun temurun. Dari Ibrahim diwariskan kepada Ishaq. Dari Ishaq diberikan kepada Ya'qub. Oleh Ya'qub pakaian itu dikalungkan di leher Yusuf karena takut bahaya hasud. Yusuf mengirimkan bajunya itu atas petunjuk Malaikat Jibril yang mengatakan bahwa baju itu membawa angin surga, dan siapa saja yang merasakan angin surga itu pasti akan mendapatkan kesembuhan jika ia sedang sakit. Riwayat lain mengatakan bahwa itu adalah baju Yusuf yang dilepas dari badannya, dan ketika baju itu diberikan kepada ayahnya, hal tersebut mendatangkan kebahagiaan yang mendalam di hati Ya'qub. Kebahagiaan tersebut dapat menguatkan jiwa, badan yang lemah atau menyembuhkan yang sakit, sehingga kebahagiaan itu menguatkan pandangan matanya yang lemah sampai dapat melihat secara normal, menghilangkan yang selama ini menjadi penghalang disebabkan menangis, dan ilmu kedokteran juga menyetujui pendapat ini.
10. Kebahagiaan Ya'qub bertambah ketika Yusuf meminta agar seluruh keluarganya yang jumlahnya sekitar tujuh puluh atau Sembilan puluh tiga — laki-laki dan perempuan — didatangkan dan untuk tinggal di Mesir.====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
