YUUSUF (10)
Surah Yuusuf Ayat 36-40
_BAGIAN KEENAM_: KISAH NABI YUSUF DI DALAM PENJARA DAN DAKWAHNYA MENUJU AGAMA YANG BENAR
وَدَخَلَ مَعَهُ ٱلسِّجْنَ فَتَيَانِ ۖ قَالَ أَحَدُهُمَآ إِنِّىٓ أَرَىٰنِىٓ أَعْصِرُ خَمْرًۭا ۖ وَقَالَ ٱلْـَٔاخَرُ إِنِّىٓ أَرَىٰنِىٓ أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِى خُبْزًۭا تَأْكُلُ ٱلطَّيْرُ مِنْهُ ۖ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِۦٓ ۖ إِنَّا نَرَىٰكَ مِنَ ٱلْمُحْسِنِينَ ٣٦
*Artinya*: Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda1#. Berkatalah salah seorang di antara keduanya, "Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku memeras anggur". Dan yang lainnya berkata, "Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung". Berikanlah kepada kami takbirnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (menakbirkan mimpi).
1#- Menurut riwayat dua orang pemuda itu adalah pelayan-pelayan raja; seorang pelayan yang mengurusi minuman raja dan yang seorang lagi tukang buat roti.
قَالَ لَا يَأْتِيكُمَا طَعَامٌۭ تُرْزَقَانِهِۦٓ إِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيلِهِۦ قَبْلَ أَن يَأْتِيَكُمَا ۚ ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِى رَبِّىٓ ۚ إِنِّى تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍۢ لَّا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَهُم بِٱلْـَٔاخِرَةِ هُمْ كَـٰفِرُونَ ٣٧
*Artinya*: _Yūsuf berkata, Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu, melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhan-ku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian.*
وَٱتَّبَعْتُ مِلَّةَ ءَابَآءِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْحَـٰقَ وَيَعْقُوبَ ۚ مَا كَانَ لَنَآ أَن نُّشْرِكَ بِٱللَّهِ مِن شَىْءٍۢ ۚ ذَٰلِكَ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى ٱلنَّاسِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ ٣٨
*Artinya*: _Dan aku pengikut agama bapak-bapakku, yaitu Ibrāhīm , Isḥāq dan Ya`qūb. Tiadalah patut bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya), tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya)._
يَـٰصَـٰحِبَىِ ٱلسِّجْنِ ءَأَرْبَابٌۭ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلْوَٰحِدُ ٱلْقَهَّارُ ٣٩
*Artinya*: _Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?_
مَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسْمَآءًۭ سَمَّيْتُمُوهَآ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَـٰنٍ ۚ إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ٤٠
*Artinya*: _Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"._
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat ini menunjukkan hal-hal berikut.
1. Allah menakdirkan masuknya Yusuf ke dalam penjara bersama dua orang pelayan raja, dan keduanyalah yang akan menjadi sebab keluarnya Yusuf dari penjara.
2. Takwil mimpi membutuhkan ilmu, keshalihan, ketakwaan, dan kebaikan dalam jiwa, dan terkadang mimpi itu merupakan suatu yang benar. Rasulullah saw. bersabda:
رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ
_"Mimpi seorang Mukmin itu sebagian dari 46 bagian kenabian."_
Berdasarkan kesaksian orang-orang yang berada di dalam penjara. Nabi Yusuf termasuk golongan orang-orang yang baik (muhsiniin). Kebaikan Nabi Yusuf di antaranya dapat menyembuhkan dan mengobati orang-orang yang sakit serta membesarkan hati orang-orang yang bersedih.
Nabi Yusuf juga termasuk orang-orang yang memiliki ilmu luas dan selalu mengamalkannya. Perkataan mereka tentangnya bahwa Yusuf adalah orang yang berilmu dan berlaku baik, berakhlak mulia dan memiliki perangai yang terpuji dalam semua perbuatannya.
4. Nabi Yusuf memberitahukan kedua orang yang bertanya kepadanya tentang takwil mimpi bahwa dia akan mengabarkan kepada keduanya tentang makanan dan sifat-sifatnya yang akan disiapkan untuk keduanya dari raja atau selainnya sebelum makanan itu sampai kepada mereka. Pemberitahuan tersebut diperoleh melalui wahyu dari Allah Azza wa Jalla, bukan sebuah perdukunan bukan pula ramalan. Namun semua itu merupakan pengabaran suatu yang gaib yang menunjukkan atas kenabiannya dan sebuah mukjizat penetapan kerasulannya.
5. Seorang nabi yang memegang amanah dakwah selalu menggunakan kesempatan yang baik untuk melaksanakan kewajibannya. Dan ini yang dilakukan oleh Nabi Yusuf. Dalam kondisi bagaimanapun Nabi Yusuf mengajak untuk memerangi kemusyrikan, penyembahan berhala dan menghancurkan sendi-sendi peribadahan orang-orang musyrik. Nabi Yusuf juga mengajak kepada penauhidan Allah dan mengikuti kepada agama nenek moyangnya yang kesemuanya merupakan para nabi: *Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub*, karena mereka benar-benar para nabi Allah. Manfaat penyebutan nabi-nabi tersebut karena ketika Nabi Yusuf mengaku sebagai nabi dan menampakan kemukjizatannya yang merupakan kabar-kabar gaib. Nabi Yusuf mengaitkannya dengan keadaannya sebagai keturunan nabi.
Bukanlah keadaan para nabi jika mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah, bagaimanapun bentuk kemusyrikan tersebut.
Inilah di antara karunia Allah kepada rasul-Nya seperti terpeliharanya dari perbuatan keji (zina), juga karunia Allah kepada orang-orang Mukmin yang Allah utus rasul-Nya kepada mereka. Seperti Allah memelihara mereka dari kemusyrikan. Adapun firman-Nya (مِن شَىْءٍۢ ۚ ) kembali kepada semua macam kemusyrikan seperti menyembah patung, api, bintang-bintang, dan semua yang ada di alam ini. Ayat tersebut juga merupakan petunjuk kepada agama yang benar bahwa tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada Tuhan yang Maha Menjadikan kecuali Allah, dan tidak ada Tuhan yang Maha Pemberi rezeki melainkan Allah.
Akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur atas nikmat iman dan tauhid. Firman-Nya (مِن فَضْلِ ٱللَّهِ) menunjukkan bahwa tercegahnya kemusyrikan dan terjadinya keimanan merupakan karunia dari Allah SWT.
6. Dalam menghancurkan aqidah tuhan yang banyak dan bermacam-macam. Nabi Yusuf menggunakan dalil _'aqli_ dan _naqli_. Begitu juga dalam penetapan kebenaran keesaan Allah dan sifat ketuhanan-Nya.
7. Patung-patung dan berhala-berhala yang dianggap tuhan dan dibuatkan nama-nama oleh mereka dan nenek moyang mereka tidaklah memiliki sifat ketuhanan sedikit pun melainkan hanya nama-nama saja karena semua itu hanyalah benda belaka. Adapun mengenai nama-nama tersebut tidak sedikit pun memiliki kebenaran, bahkan akal dan naql menolaknya.
8. Tidak ada hukum kecuali milik Allah karena Dialah pencipta segalanya dan hanya Dialah yang berhak disembah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Karena itu dalam ayat-Nya Dia memerintahkan agar tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya.
9. Dakwah kepada tauhid (mengesakan Allah) yaitu dakwah kepada agama yang lurus dan tidak ada penyimpangan di dalamnya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui hakikat agama yang benar.
10. *Imam ar-Raazi* menyebutkan lima dalil atau alasan tentang ketidakbenaran menyembah kepada banyak Tuhan, dengan ringkas kami sebutkan sebagai berikut.
a. Tuhan yang berbilang-bilang (banyak) akan menyebabkan kekacauan dan kerusakan di alam ini. Seperti yang dimaksudkan dalam firman-Nya: _"Seandainya pada keduanya (di langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa."_ *(al-Anbiyaa': 22)*. Adanya tuhan yang banyak akan mengakibatkan terjadinya kerusakan, kekacauan dan pertempuran. Sebaliknya, ajaran tauhid (mengesakan Allah) akan menimbulkan keteraturan dan keserasian dalam tatanan alam.
b. Sesungguhnya patung-patung dan sejenisnya yang diciptakan oleh manusia, atau bintang-bintang yang dianggap tuhan, semuanya merupakan objek (buatan) bukan sebagai predikat (pembuat atau pencipta), juga merupakan suatu yang dipaksa bukan sebagai yang memaksa.
c. Hanya Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa dan wajib disembah. Karena jika terdapat tuhan yang lain bersama adanya Allah, kita tidak bisa mengetahui Tuhan mana yang telah menciptakan kita, tuhan mana yang telah memberi rezeki kepada kita dan tuhan yang mana yang telah mengangkat musibah kita. Hal itu akan menimbulkan keraguan apakah kita harus menyembah yang ini atau yang itu. Hal ini juga merupakan dalil bahwa menyembah berhala merupakan keyakinan yang rusak. Karena di antara sifat Tuhan yaitu mampu memberi manfaat dan musibah. Kita tidak pernah mengetahui sebuah patung dapat memberi manfaat dan musibah meskipun patung itu banyak dan saling bersekutu. Karena itu, tidak ada yang patut disembah dari semua itu kecuali Allah SWT.
d. Seandainya sebagian tuhan-tuhan yang yang mereka sembah dapat memberi manfaat dan mudarat sebagaimana yang diyakini oleh orangorang yang percaya dengan jimat dan sejenisnya, semua itu hanya dalam kurun waktu dan kejadian tertentu saja. Sedangkan Allah SWT Mahakuasa atas semua kekuasaan dan dalam semua waktu dan kejadian. Karena itu, menyembah Allah lebih patut dan pantas dari menyembah selain-Nya.
e. Penyifatan Tuhan dengan sifat _al-Qahhaar_ memberi pengertian bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memaksa-Nya dan Dialah yang Maha memaksa terhadap suatu apa pun. Juga memberi pengertian bahwa zat Tuhan adalah zat yang _waajibul wujuud_ (wajib ada), karena jika zat Tuhan _mumkinul wujuud_ (kemungkinan ada). Tuhan tersebut yang diciptakan dan bukan sang pencipta. Wajib bahwa Tuhan Maha Esa dan tidak berbilang-bilang karena jika Tuhan berbilang-bilang. Tuhan tidak dapat memaksa selainnya. Tuhan tidak mungkin Maha memaksa kecuali jika zat-Nya waajibul wujuud dan juga Maha Esa. Semua sifat ini tidak terdapat pada tuhan-tuhan yang mereka sembah seperti planet-planet, bintang-bintang, cahaya, kegelapan, dan sejenisnya.
11. Bagi orang yang berilmu jika diminta fatwa oleh salah seorang dari orang bodoh dan fasiq, yang terbaik adalah memprioritaskan dengan mengajaknya kepada petunjuk hidayah dan nasihat-nasihat kepada kebaikan. Setelah itu mengajaknya kepada hal yang lebih utama dan yang lebih wajib baginya daripada suatu yang akan ia fatwakan. Kemudian barulah berikan fatwa yang ditanyakannya.
12. Apabila kedudukan seorang yang berilmu tidak diketahui, seseorang itu menyesuaikan dirinya dengan masalah yang sedang ia hadapi. Tujuannya hanyalah karena ingin mengungkap maksud tentang permasalahan tersebut dan memanfaatkanya untuk urusan agama, maka yang demikian itu bukanlah termasuk _tazkiyyatun-nafs) (penyucian diri) yang dilarang. *Allah berfirman*, _"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci."_ *(an-Najm: 32)* ====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
