AL-BAQARAH (15)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 74 - 82]
KEKERASAN HATI KAUM YAHUDI
Surah al-Baqarah Ayat 74
Allah Ta'ala tidak menciptakan apa pun di alam ini secara percuma. Semua diciptakan-Nya dengan membawa manfaat. Ayat ini menunjukkan sebagian manfaat batu dan benda-benda mati lain sejenisnya. Benda-benda itu ternyata tunduk kepada perintah Allah. Karena itu, jika ada sekelompok makhluk yang memberontak dari hukum Allah sehingga mereka tidak bermanfaat karena mereka tidak terpengaruh dengan nasihat-nasihat dan tidak sudi menerima kebenaran, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal, di dunia dan di akhirat. Di dunia Allah akan menimpakan malapetaka kepada mereka, lalu di akhirat Dia akan mengadzab mereka di dalam neraka Jahanam, lantaran mereka menolak kebenaran dan tidak mau taat kepada perintah-perintah Allah Ta'ala.
KAUM YAHUDI DIANGGAP MUSTAHIL BERIMAN
Surah al-Baqarah Ayat 75-78
Mengubah firman Allah adalah perbuatan haram yang paling berat dosanya, baik dengan cara penakwilan yang tidak benar maupun dengan cara penggantian lafalnya. Kedua jenis ini telah dilakukan oleh para pendeta Yahudi. Allah Ta'ala menyifati mereka bahwa mereka mengganti dan mengubah kalam Allah. Dia berfirman:
"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri.” (al-Baqarah: 79)
Pengubahan itu ada banyak bentuknya. Pada zaman Nabi Musa a.s., diriwayatkan bahwa sebagian dari ketujuh puluh orang yang terpilih, yang telah mendengar kalam Allah ketika Dia berfirman kepada Musa di gunung Thur, yang berisi perintah dan larangan-Nya kepada Musa, mereka kemudian berkata, "Kami mendengar Allah berfirman di bagian akhirnya: Jika kalian sanggup melakukan hal-hal ini, lakukanlah: tetapi jika kalian ingin untuk tidak melakukannya, jangan lakukan, dan kalian tidak mendapat dosa.”
Tentang maksud *firman Allah: (ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُۥ)* Mujahid dan as-Suddi berkata: Mereka adalah para ulama Yahudi yang mengganti Taurat. Mereka, dengan mengikuti hawa nafsu, mengubah perkara haram menjadi halal dan perkara halal menjadi haram.
Sedangkan pada zaman Nabi Muhammad saw. mereka mengubah ciri-ciri Rasulullah serta mengubah ayat rajam. Mereka juga berkata,
"Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang umi.” (Ali Imran: 75)
"Orang-orang umi” maksudnya bangsa Arab. Artinya, harta mereka yang kami ambil adalah halal bagi kami. Mereka juga berkata, "Dosa apa pun tidak mendatangkan mudarat kepada kami sebab kami adalah kaum yang dicintai Allah dan merupakan putra-putra-Nya,” Mahasuci Allah dari hal yang demikian.
Sebagaimana terjadi pada Taurat, kedua jenis pengubahan ini juga terjadi pada Injil. Buktinya jelas, yaitu lenyapnya naskah asli kedua kitab suci ini. Kedua kitab ini ditulis oleh para ilmuwan beberapa puluh tahun kemudian. Allah Ta'ala berfirman :
"Mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (an-Nisaa': 46)
Pengubahan terjadi pada Al-Qur'an dengan makna penakwilan yang batil, yang diperbuat oleh orang-orang yang tak berilmu atau oleh orang-orang kafir. Adapun pengubahan dengan menghapus salah satu ayat dari Al-Qur'an tidak terjadi, sebab Allah telah berjanji menjaga kitab-Nya dalam firman-Nya :
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)
Ayat 78 surah al-Baqarah menunjukkan tidak bolehnya bertaklid dalam soal akidah, serta menunjukkan tidak sahnya keimanan orang yang bertaklid seperti ini, sebab makna *firman Allah: (وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ)* adalah "mereka berdusta dan mengada-ada, sebab mereka tidak mengetahui benarnya apa yang mereka baca: mereka hanya meniru apa yang dibacakan para pendeta”. Para salaf pada permulaan masa Islam serta pada tiga abad pertama berijmak bahwa tidak boleh bertaklid dalam soal akidah. Pada masa-masa tersebut orang yang tak berilmu mempelajari akidah berikut dalilnya dari ulama serta menerima hukum-hukum berikut riwayatnya. Ia tidak bertaklid buta, tidak mengikuti pendapat sang ulama betapa pun bagusnya, jika pendapat itu tidak diiringi dengan dalil."
Ditujukannya pembicaraan dalam ayat-ayat ini kepada kaum Yahudi yang sezaman dengan Nabi Muhammad saw. mengisyaratkan bahwa tiada harapan akan berimannya kaum Yahudi kepada Al-Qur'an dan kepada dakwah Rasulullah saw.. Mereka yang sezaman dengan Rasulullah saw. mewarisi watak dan akhlak para leluhur, telah berakar dalam diri mereka sifat memberontak dan berpaling dari kalam Allah. Para leluhur mereka adalah manusia-manusia yang paling suka mendebat kebenaran, meski kebenaran itu sangat jelas. Mereka adalah manusia yang paling gemar berdusta, membanggakan diri sendiri, memakan harta orang lain dengan cara yang batil (misalnya riba yang keji), menipu, dan mengaburkan fakta. Namun meski begitu mereka meyakini bahwa mereka adalah umat Allah yang istimewa dan manusia yang paling utama, sama seperti yang diyakini orang-orang yang serupa dengan mereka di zaman sekarang. Inilah amaani (dongengan-dongengan dusta) yang menghalangi mereka untuk menerima Islam."
PENGUBAHAN DAN REKAAN-REKAAN PARA PENDETA YAHUDI
Surah al-Baqarah Ayat 79-82
Ayat 79 dan yang sebelumnya mengandung peringatan agar tidak melakukan pengubahan serta penambahan atas syariat Allah. Setiap orang yang mengganti, mengubah, atau mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama Allah terkena ancaman yang berat dan adzab yang pedih ini. Rasulullah saw. telah memperingatkan umatnya terhadap kejadian yang telah beliau ketahui akan berlangsung di akhir zaman. *Beliau bersabda:*
"Ketahuilah, kaum Ahli Kitab sebelum kalian terpecah menjadi 72 golongan, dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan.”
Beliau memperingatkan mereka agar tidak mengada-adakan sendiri dalam agama ini sesuatu yang berlawanan dengan Kitabullah atau Sunnah beliau atau Sunnah para sahabat beliau, sehingga umat menjadi tersesat karenanya.
Ayat 79 menjelaskan bahwa imbalan apa pun, meski banyak, atas pengubahan Kitabullah tidak membawa berkah dan kebaikan sama sekali. Allah Ta'ala memberi sifat "sedikit” pada upah yang diambil para pendeta Yahudi itu, entah karena mudah lenyapnya upah tersebut entah karena keharamannya (sebab sesuatu yang haram tidak mengandung berkah, dan tidak berkembang di sisi Allah). Ibnu Ishaq dan al-Kalbi berkata: Ciri Rasulullah saw. yang tercantum dalam kitab suci mereka adalah: tingginya sedang dan berkulit coklat, tetapi mereka mengubahnya menjadi "berkulit sawo matang, berambut lurus, dan bertubuh jangkung”, dan mereka berkata kepada teman-teman dan para pengikut mereka, "Lihatlah ciri nabi yang akan diutus di akhir zaman ini, tak ada yang sama dengan ciri-ciri orang ini (yakni Nabi Muhammad).”
Ayat 81 (بَلَىٰ مَن كَسَبَ سَيِّئَةًۭ وَأَحَـٰطَتْ بِهِۦ خَطِيٓـَٔتُهُۥ) menunjukkan bahwa sesuatu yang digantungkan kepada dua syarat tidak terwujud dengan terpenuhinya salah satu saja dari dua syarat itu. Ini serupa dengan firman Allah Ta'ala :
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.. ." (Fushshilat: 30)
Dan sebab kekekalan di dalam neraka adalah syirik kepada Allah.
Ayat 82 menunjukkan bahwa masuk surga itu tergantung kepada iman dan amal saleh sekaligus. Muslim meriwayatkan bahwa Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi pernah berkata kepada baginda Nabi saw., "Wahai Rasulullah, ajarilah saya suatu ucapan yang kelak tidak perlu saya tanyakan kepada orang lain sesudah Anda.” Maka beliau bersabda:
(آمَنْتُ بِا اللَّهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ)
"Ucapkan: Aku beriman kepada Allah, lalu teguhkan pendirianmu.”
Penggabungan antara dua ayat tersebut (81 dan 82) merupakan manhaj Al-Qur'anul Karim dalam memberi penjelasan. Allah SWT biasa menggandengkan antara janji pahala dan ancaman siksa, menyebutkan pelaku kebaikan dan pelaku kejahatan, serta penghuni surga dan penghuni neraka, sesuai dengan hikmah yang menuntut demikian. Allah membimbing umat manusia, terkadang dengan janji pahala dan terkadang dengan ancaman siksa, kadang dengan berita gembira dan kadang dengan peringatan yang menakutkan, sebab dengan kelembutan dan pemaksaan manusia meningkat ke derajat kesempurnaan.====
Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
