SURAH AL-BAQARAH 35 - 39 (Bagian 2)

AL-BAQARAH (9)

FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 35 - 39]

ADAM DAN HAWA TINGGAL DI SURGA DAN SIKAP SETAN TERHADAP MEREKA
Surah al-Baqarah Ayat 35 - 39 (Bagian 2)

Keempat : Tentang kedurhakaan Adam kemudian tobatnya. Jumhur fuqaha dari mazhab Maliki, Hanafi, dan Syafi'i berpendapat bahwa para nabi maksum dari dosa-dosa kecil maupun dosa-dosa besar, sebab kita diperintahkan-secara mutlak, tanpa dibatasi dengan syarat/kondisi tertentu-untuk mengikuti mereka dalam perbuatan dan tindak-tanduk mereka. Kalau kita asumsikan bahwa mereka bisa saja melakukan dosa-dosa kecil, tentu tak mungkin mengikuti/meniru mereka.!?



Berdasarkan hal ini, untuk menjawab tentang kesalahan Adam yang terhitung dosa kecil dan bukan dosa besar itu, kita katakan bahwa itu terjadi sebelum dia menjadi nabi, sedangkan _'ishmah_ (keterjagaan dari dosa) hanya terwujud setelah seseorang diangkat menjadi nabi.

Atau perbuatannya itu terjadi karena lupa, namun disebut "kedurhakaan” demi membesarkan urusan pelanggaran itu, dan kealpaan tidak menafikan 'ishmah. Atau, menurut metode kaum salaf, hal itu tergolong _mutasyaabih_ (samar maknanya), sama seperti hal-hal lain yang disebutkan dalam kisah ini, yang tidak mungkin diartikan sesuai dengan makna lahirnya. Yang paling kuat, menurut saya, adalah pelanggaran ini terjadi karena lupa, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

"Maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (Thaahaa: 115)

Tobatnya Adam adalah dengan mengucapkan kalimat:

"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (al-A'raaf: 23)

Pendapat inilah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Sementara dari Ibnu Mas'ud r.a. diriwayatkan: Kalimat yang paling disukai Allah Ta'ala adalah yang diucapkan oleh bapak kita, Adam, setelah ia melakukan kesalahan, yaitu:

"Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu aku menyucikan-Mu. Mahasuci nama-Mu dan Mahatinggi keagungan-Mu. Tiada Tuhan selain Engkau. Aku telah menganiaya diriku, maka ampunilah dosaku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”

Al-Qur'an hanya menyebutkan tobat Adam tanpa menyebut tobat Hawa sebab ia adalah ikutan Adam, sebagaimana penyebutan kaum wanita di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah seringkali dikesampingkan karena alasan yang sama. Al-Qur'an menyebutkan tobat Hawa dalam ayat yang lain, yakni ayat di atas: "Keduanya berkata: Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri...”

Tobat seseorang tidak diterima kecuali jika terpenuhi empat unsur: menyesali kesalahan yang lalu, meninggalkan dosa sekarang, bertekad untuk tidak mengulanginya di masa depan, dan mengembalikan hak-hak orang lain serta meminta maaf kepadanya.'”

Kelima : Tentang masuknya Iblis ke surga. Para ulama bertanya-tanya, bagaimana Iblis berhasil menggoda Adam setelah Allah mengusirnya dari surga dengan firman-Nya : "Maka keluarlah kamu dari surga: sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk” (Shaad: 77), sehingga ia berada di luar surga sedangkan Adam berada di dalamnya? Hal ini bisa dijawab dengan beberapa jawaban. Di antaranya:

Bisa jadi Iblis dihalangi masuk surga sebagai bentuk pemuliaan terhadapnya, seperti masuknya para malaikat ke sana, tetapi ia tidak dihalangi memasukinya untuk melakukan godaan, sebagai ujian bagi Adam dan Hawa. Sebagian ulama berpendapat bahwa Iblis tidak memasuki surga, dan dia tidak sampai kepada Adam setelah ia dikeluarkan dari sana: yang sampai kepadanya hanya bisikan-bisikan jahatnya yang diberikan Allah kepadanya, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

"Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti aliran darah."

Keenam : Firman Allah Ta'ala: "Kemudian Jika datang petunjuk-Ku kepadamu” (al-Baqarah: 38) mengandung isyarat bahwa semua perbuatan manusia diciptakan oleh Allah Ta'ala. Namun paham Qadariyyah dan lain-lain tak sependapat dalam hal ini. Menurut mereka, manusia sendiri yang menciptakan perbuatan-perbuatannya. Ayat 38 menunjukkan bahwa barangsiapa telah didatangi petunjuk melalui lisan seorang rasul lalu dia mengikuti petunjuk itu, maka ia telah memperoleh keselamatan di akhirat. Ayat 39 menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak mengikuti petunjuk Allah, yakni orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan mendustakannya, akan mendapat balasan berupa hidup yang kekal di dalam neraka Jahanam akibat keingkaran mereka karena mengikuti bisikan jahat setan.

Ketujuh : Tentang malaikat. Malaikat adalah salah satu makhluk Allah. Kita tidak tahu hakikat mereka, tetapi meyakini keberadaan mereka wajib hukumnya menurut syariat sebab Al-Qur'an dan Nabi saw. telah mengabarkan hal itu. Para malaikat diberi pembawaan untuk selalu taat, bersih dari maksiat. Namun apakah mereka lebih afdhal daripada manusia?

Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Sebagian dari mereka memandang bahwa malaikat lebih afdhal ketimbang manusia, dengan dalil firman Allah :

"Dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” (al-A'raaf: 20)

serta firman-Nya tentang wanita-wanita yang terpukau oleh ketampanan Nabi Yusuf:

"Dan mereka berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” (Yusuf: 31)

Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa jenis manusia lebih afdhal daripada malaikat sebab malaikat diciptakan dengan diberi pembawaan untuk selalu taat, sedangkan manusia punya kecenderungan kepada kejahatan dan kebaikan, dan manusia juga terus-menerus berjuang melawan hawa nafsunya.

Menurut sekelompok ulama, kalangan awam malaikat lebih afdhal daripada kalangan awam manusia, sedangkan kalangan khusus manusia (yaitu para nabi) lebih afdhal daripada kalangan khusus malaikat.

Saya berpendapat bahwa lebih baik tidak membahas hal ini, meski saya sendiri mentarjih pendapat bahwa malaikat lebih afdhal daripada manusia.===

Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login