AL-A'RAAF (57)
AL-A'RAAF: 181-186
ORANG-ORANG YANG MENDAPAT HIDAYAH DAN ORANG-ORANG YANG MENDUSTAKAN AYAT-AYAT ALLAH DARI KALANGAN UMAT ISLAM
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Dalam ayat-ayat ini, Allah SWT menceritakan dakwah umat Nabi Muhammad saw. dan membagi mereka—sebagaimana halnya kaum para Nabi yang lain—menjadi dua kelompok: kelompok yang beriman lagi mendapat hidayah dan kelompok yang sesat lagi mendustakan.
Kelompok yang mendapat hidayah, Allah menyifati mereka sebagai orang-orang yang menunjuki manusia kepada kebenaran serta berhukum dengan kebenaran dan keadilan. Ini sama dengan sifat yang Allah SWT lekatkan kepada beberapa kaum Nabi Musa dengan dua sifat tersebut. Penyifatan seperti ini sangat objektif, adil, dan sesuai dengan kenyataan yang ada.
Ayat ini membuktikan—sebagaimana disebutkan *Qurthubi*—bahwa Allah SWT tidak akan pernah membiarkan dunia ini sesaat pun kosong dari orang yang menyeru dan mengajak kepada kebenaran.
Adapun orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan Al-Qur’an yang diturunkan-Nya (kepada masyarakat Mekah), Allah SWT menyampaikan bahwa Dia akan menjebak mereka dengan mendekatkan mereka kepada sesuatu yang akan membinasakan mereka dan melipatgandakan siksaan mereka tanpa mereka sadari apa yang sedang direncanakan melalui nikmat-nikmat, kebaikan, dan rezeki yang diturunkan kepada mereka setiap kali mereka melakukan sebuah dosa atau kesalahan.
Allah SWT akan membiarkan mereka dan memberi mereka waktu ketika mereka tetap dalam kekafiran dan Allah tidak menyegerakan siksaan mereka, tetapi menundanya untuk memberi mereka kesempatan kembali kepada kebenaran, menjawab seruan iman dan memercayai Nabi saw.. Dalam masa tempo tersebut, Allah SWT tetap memperingatkan mereka bahwa jika mereka tetap dalam kemaksiatan dan kekafiran, sungguh tipu daya Allah SWT sangat dahsyat dan terencana.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Quraisy yang biasa memperolok-olok kaum Muslimin. Allah SWT membinasakan mereka dalam satu malam setelah Allah memberi mereka tempo beberapa masa, sebagaimana *firman Allah SWT,*
_"Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba."_ *(al-An'aam: 44)*
Ayat (أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا۟ ۗ) mengandung ajakan kepada para pendusta agar bersikap dengan akal sehat, pikiran jernih, objektif, dan memerhatikan realita Nabi saw. serta sejarah hidupnya. Ia jelas tidak seperti apa yang mereka ucapkan sebagai seorang gila. Ia adalah seorang penyeru kebenaran, pemberi peringatan untuk kebaikan, penasihat umat, dan pembimbing manusia kepada sesuatu yang membawa kepada kebaikan dan keselamatan mereka.
Kemudian, Allah SWT mengajak mereka untuk mengoptimalkan pemikiran serta menajamkan pandangan mereka kepada kerajaan langit dan bumi, makhluk-makhluk yang beraneka ragam dan tentang ajal mereka—yang boleh jadi—sudah sangat dekat untuk mengantarkan mereka mengenal Tuhan yang sesungguhnya dan mengimani adanya Pencipta Yang Mahabijaksana, Mahakuasa dan Maha Qadim yang tiada sekutu, tandingan dan lawan baginya; serta mengenal kesempurnaan kekuasaan-Nya. Apabila mereka tidak beriman dengan Al-Qur'an, dengan kitab mana lagi mereka akan percaya selain Al-Qur’an yang dibawa Muhammad saw.? Ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an adalah sumber hidayah (petunjuk)
Para ulama menjadikan ayat (أَوَلَمْ يَنظُرُوا۟ فِى مَلَكُوتِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ) dan ayat-ayat lain yang senada yang sangat banyak termaktub di dalam Al-Qur’an# (#Misalnya *firman Allah SWT*, _“Katakanlah, lihatlah apa yang ada di langit dan di bumi,"_ dan juga *firman Allah SWT*, _"Tidakkah mereka melihat ke langit di atas mereka bagaimana Kami membangunnya,"_ dan *firman Allah SWT*, _"Apakah mereka tidak memerhatikan unta itu bagaimana ia diciptakan,"_ serta *firman-Nya,* _"Dan pada diri kamu apakah kamu tidak berpikir?"_). sebagai dalil terhadap wajibnya memikirkan ayat-ayat Allah SWT dan mengambil ibrah dari realita para makhluk-Nya. Allah SWT mencela orang yang tidak mau berpikir. Allah SWT mencabut manfaat panca indra yang telah dikaruniakan pada mereka. *Allah SWT berfirman,*
_"Mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)."_ *(al-A'raaf: 179)*
*Al-Jashshash* berkata, "Firman Allah (أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا۟ ۗ) adalah dorongan untuk berpikir, mencari dalil, dan merenungi ciptaan Allah SWT dan pengaturan-Nya terhadap alam ini karena semua itu menjadi bukti terhadap eksistensi-Nya, kebijaksanaan-Nya, kedermawanan-Nya, dan keadilan-Nya.". Begitu juga dengan _taqlid_ dalam masalah _aqidah_, ini tidak boleh. Akan tetapi, haruslah berpikir serta mencari dalil. Mayoritas ulama berpendapat bahwa berpikir dan mencari dalil merupakan kewajiban pertama untuk setiap manusia.
Sebagian ulama lain berpendapat bahwa kewajiban pertama untuk seorang manusia adalah beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan semua yang dibawanya. Iman adalah keyakinan yang timbul di dalam hati,—pengetahuan tidak termasuk di antara syarat sah-nya sebuah keimanan. Kemudian, berpikir dan mencari dalil yang membawa kepada mengenal Allah SWT. Jadi, kewajiban beriman kepada Allah SWT lebih dahulu daripada kewajiban mengenal Allah SWT. Kalangan ini mengatakan—di antaranya adalah *Qurthubi*—, "Pendapat ini lebih dekat kepada yang benar dan lebih ringan bagi makhluk karena kebanyakan mereka—apalagi kalangan awam dan orang-orang yang hanya bisa taqlid—tidak benar-benar mengetahui hakikat dari sebuah pengetahuan, pemikiran, dan mencari dalil. Di samping itu. Nabi saw. di dalam _hadits mutawatir_ yang diriwayatkan oleh pengarang kitab sittah dari *Abu Hurairah*, bersabda.
_“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka berkata, La ilaha illallah, beriman kepadaku dan semua ajaran yang aku bawa. Apabila mereka melakukan hal itu, terjagalah darah dan harta mereka kecuali dengan haqnya (sesuatu yang sudah diatur), dan penghisaban mereka adalah di tangan Allah SWT.”_
Yang unik, para ulama mengatakan bahwa tidak boleh memandang atau mencari ibrah pada wajah-wajah yang indah, baik dari kalangan wanita maupun remaja-remaja yang tampan, karena hal itu berarti mengikuti hawa nafsu, tipuan akal, dan menyalahi penggunaan ilmu.
Allah SWT tidak menghalalkan memandang, kecuali kepada sesuatu yang tidak ada kecendrungan nafsu kepadanya atau ada bagian syahwat di dalamnya. Memandang atau berpikir dibolehkan pada makhluk hidup dan benda-benda mati. Makhluk hidup sangat banyak, seseorang bisa memandang ke langit bagaimana ia dibangun dan dihias tanpa ada celah, ditinggikan tanpa ada tiang; bumi bagaimana ia dijadikan sebagai hamparan dan tempat berpijak yang tenang; berbagai makhluk dan hewan di darat dan laut. Di lautan terdapat tanda-tanda penciptaan yang sangat besar dan sangat banyak terkandung ibrah (pelajaran). Sementara itu, untuk benda-benda mati, dapat direnungi jenis-jenisnya yang sangat beragam.
Ada pertanyaan, "Manakah yang lebih utama berpikir atau melaksanakan shalat?” Kalangan sufi berpendapat, berpikir lebih utama, karena ia dapat menghasilkan ma'rifah (pengenalan terhadap Allah SWT) dan ma’rifah merupakan posisi tertinggi di dalam syari'at. Banyak dari kalangan fuqaha berpendapat, shalat dan dzikir adalah lebih utama karena banyak hadits yang menganjurkan, mengajak, dan memotivasi untuk melakukannya.
*Ibnu al-'rabi* mencari jalan tengah, ia berpendapat bahwa berpikir lebih utama bagi seorang yang berilmu dan pemikir yang kuat logikanya dan mampu untuk mencari dalil. Adapun bagi yang lain, amal adalah lebih baik untuknya dan lebih berdampak bagi pribadinya.”
Ayat, (مَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَلَا هَادِىَ لَهُۥ ۚ) menjadi dalil bahwa petunjuk dan kesesatan dari Allah SWT. Mahanya, Allah-lah yang menciptakan semua perbuatan hamba baik bersifat kebaikan maupun kejahatan dan Allah-lah yang menjadikan Al-Qur'an sebagai faktor terbesar hidayah bagi orang-orang yang bertakwa dan bukan orang-orang yang membangkang. Ini sebagai bantahan terhadap golongan Qadariyyah yang mengatakan bahwa manusia sendiri yang menciptakan segala perbuatannya dan kemaksiatan itu tidak diinginkan oleh Allah SWT. Ini sekaligus juga bantahan terhadap kaum muktazilah yang mengatakan bahwa hambalah yang menciptakan perbuatannya sendiri. Akan tetapi, _Muktazilah_ menyucikan Allah dari sifat lemah. Mereka berkata, "Sesungguhnya sebuah perbuatan itu terjadi dengan kekuasaan yang telah Allah SWT ciptakan dan tempatkan dalam diri seorang hamba Allah SWT tidak pernah memaksa seseorang untuk berada dalam kesesatan.” Kesesatan yang dinisbahkan kepada Allah SWT dalam ayat ini adalah sama seperti penisbahan kepada sistem yang dibuat-Nya dan sunnatullah yang telah Dia tetapkan dalam penciptaan manusia. Kemudian, Dia mengaitkan segala perbuatan hamba dengan sebab-sebab yang memiliki dampak-dampak tertentu. Apabila seorang hamba lebih memilih kesesatan, ia tidak akan menemukan siapa pun yang memberikan petunjuk selain Allah SWT dan memang tidak ada yang akan memberinya hidayah selain Allah SWT.
Di antara sunnatullah yang telah ditetapkan Allah adalah ia akan membiarkan orang-orang yang sesat terombang-ambing dalam kebingungan dalam lumpur kesesatan dan mereka tidak akan menemukan jalan keluar dari kondisi yang mereka alami, sebagaimana halnya orang yang memilih jalan hidayah akan ditambah Allah hidayah untuknya dan akan dimudahkan selalu menapaki jalan petunjuk serta dimungkinkan untuk sampai kepada tujuannya. Demikian juga halnya dengan orang yang lebih memilih jalan kesesatan Allah akan membiarkannya dalam kesesatan yang akan membuatnya bertambah sesat. Ia akan dihalangi dari cahaya yang seyogyanya bisa membimbingnya ke jalan kebaikan dan dilemparkan ke dalam hatinya batas-batas yang sangat kuat yang akan menghalangi masuknya kebaikan ke dalam dirinya, sehingga ia tidak akan pernah bisa sampai kepada kebenaran dan kebaikan selamanya, sebagaimana *Allah SWT berfirman,*
_“Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutup hati mereka."_ *(al-Muthaffifiin: 14)*.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
