CARA PENULISAN AL-QUR'AN DAN RASM UTSMANI

SEJUMLAH PENGETAHUAN PENTING YANG BERKAITAN DENGAN AL-QUR'AN (5)

B. CARA PENULISAN AL-QUR'AN DAN RASM UTSMANI

Rasm adalah cara menulis kata dengan huruf-huruf ejaannya, dengan memperhitungkan permulaan dan pemberhentian padanya 8#.
=========
8# Yang dimaksud dengan "permulaan dan pemberhentian” adalah memulai dan mengakhiri bacaan. Sejalan dengan definisi ini, huruf hamzah washl ditulis karena ia dibaca pada saat permulaan, sedangkan bentuk tanwin dihapus karena ia tidak dibaca pada saat berhenti di akhir kata. (Penj.)

Mushaf adalah mushaf Utsmani (Mushaf Imam) yang diperintahkan penulisannya oleh Utsman r.a. dan disepakati oleh para sahabat r.a.

Rasm Utsmani adalah cara penulisan keenam mushaf pada zaman Utsman r.a.. Rasm inilah yang beredar dan berlaku setelah dimulainya pencetakan Al-Qur'an di al-Bunduqiyyah" 9# pada tahun 1530 M, dan cetakan berikutnya yang merupakan cetakan Islam tulen di St. Petersburg, Rusia, pada tahun 1787 M, kemudian di Astanah (Istanbul) pada tahun 1877 M.

==========
9# Ini namanya dalam bahasa Arab, nama Latin-nya adalah Venice. Dalam _at-Ta'riif bil A'Flaamil Waaridah Fil Bidaayah wan Nihaayah_ disebutkan: "Al-Bunduqiyyah (Venizia) adalah sebuah kota pelabuhan di Italia, terletak di pantai utara laut Adriatik.... Di zaman dahulu penduduknya punya hubungan dagang yang erat dengan negara-negara Timur Dekat, khususnya kerajaan Mamalik di Mesir dan Syam.” (Penj.)

Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang cara penulisan Al-Qur'an (atau imlaa'):

1. Pendapat mayoritas ulama, di antaranya Imam Malik dan Imam Ahmad: bahwa Al-Qur'an wajib ditulis seperti penulisan rasm Utsmani dalam Mushaf Imam, haram menulisnya dengan tulisan yang berbeda dari khath (tulisan) Utsman dalam segala bentuknya dalam penulisan mushaf, sebab rasm ini menunjukkan kepada qiraa'at yang beraneka ragam dalam satu kata.

2. Pendapat sebagian ulama (yaitu Abu Bakar al-Baqillaniy, Izzuddin bin Abdussalam, dan Ibnu Khaldun): bahwa mushaf boleh saja ditulis dengan cara penulisan (rasm imlaa') yang dikenal khalayak, sebab tidak ada nash yang menetapkan rasm tertentu, dan apa yang terdapat dalam rasm (misalnya penambahan atau penghapusan) bukanlah tauqiif (petunjuk) yang diwahyukan oleh Allah kepada rasul-Nya. Seandainya demikian, tentu kami telah mengimaninya dan berusaha mengikutinya. Namun kalau mushaf ditulis dengan metode imlaa' modern, ini memungkinkan untuk dibaca dan dihafal dengan benar.

Komisi Fatwa di al-Azhar dan ulama-ulama Mesir yang lain! memandang bahwa lebih baik mengikuti cara penulisan mushaf yang ma'tsur, demi kehati-hatian agar Al-Qur'an tetap seperti aslinya dalam bacaan maupun penulisannya, dan demi memelihara cara penulisannya dalam era-era Islam yang lampau (yang mana tak ada riwayat dari satu pun imam ahli ijtihad bahwa mereka ingin mengubah ejaan mushaf dari penulisan rasmnya terdahulu), serta untuk mengetahui qiraa'at yang dapat diterima dan yang tidak. Karena itu, dalam masalah ini tidak dibuka bab istihsaan yang mengakibatkan Al-Qur'an mengalami pengubahan dan penggantian, atau dipermainkan, atau diperlakukan ayat-ayatnya sesuka hati dalam hal penulisan. Akan tetapi, tidak ada salahnya, menurut pendapat mayoritas ulama, menulis Al-Qur'an dengan cara imla' modern dalam proses belajar mengajar, atau ketika berdalil dengan satu ayat atau lebih dalam sebagian buku karangan modern, atau dalam buku-buku Departemen Pendidikan, atau pada waktu menayangkannya di layar televisi.

C. AHRUF SAB'AH DAN QIRAA'AT SAB'AH

Umar ibnul Khaththab r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

(إِنَّ هَذَا الْقُرْأَنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ, فَاقْرَءُوا تيَسَّرَ مِنْهُ

"Sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah Al-Qur'an dengan bacaan yang mudah bagimu.”

Tujuh huruf artinya tujuh cara baca, yaitu tujuh bahasa dan dialek di antara bahasa-bahasa dan dialek-dialek bangsa Arab. Al-Qur'an boleh dibaca dengan masing-masing bahasa itu. Ini tidak berarti bahwa setiap kata dari Al-Our'an dibaca dengan tujuh cara baca, melainkan bahwa ia (Al-Qur'an) tidak keluar dari ketujuh cara tersebut. Jadi, kalau tidak dengan dialek Quraisy (yang merupakan bagian terbanyak), ia dibaca dengan dialek suku lain (sebab dialek suku ini lebih fasih). Dialek-dialek itu, yang dahulu masyhur dan pengucapannya enak, antara lain: dialek Quraisy, Hudzail, Tamim, al-Azd, Rabi'ah, Hawazin, dan Sa'd bin Bakr. Inilah pendapat yang paling masyhur dan kuat.

Menurut pendapat lainnya, yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah cara-cara qiraa'at (bacaan Al-Qur'an). Sebuah kata dalam Al-Qur'an, betapa pun bervariasi cara pengucapannya dan beraneka ragam bacaannya, perbedaan di dalamnya tidak keluar dari tujuh segi berikut:

1. Perbedaan dalam i'raab suatu kata atau dalam harakat binaa'nya, tetapi perbedaan itu tidak melenyapkan kata itu dari bentuknya (tulisannya) dalam mushaf dan tidak mengubah maknanya, atau mengubah maknanya. Contohnya: fa-talaqqaa _aadamu_ dibaca _aadama_.

2. Perbedaan dalam huruf-huruf, mungkin disertai dengan perubahan makna (seperti: ya'lamuuna dan ta'lamuuna), atau hanya perubahan bentuk tanpa disertai perubahan makna (seperti: ash-shiraath dan as-siraath).

3. Perbedaan wazan, isim-isim dalam bentuk tunggal, dua, jamak, mudzakkar, dan mu'annats. Contohnya: amaanaatihim dan amaanatihim.

4. Perbedaan dengan penggantian suatu kata dengan kata lain yang kemungkinan besar keduanya adalah sinonim, seperti: kal-'ihnil manfuusy atau kash-shuufil manfuusy. Kadang pula dengan penggantian suatu huruf dengan huruf lain, seperti: nunsyizuhaa dan nunsyiruhaa.

5. Perbedaan dengan pendahuluan dan pengakhiran, seperti: fa-yaqtuluuna wa yuqtaluuna dibaca fa-yuqtaluuna wa yaqtuluuna.

6. Perbedaan dengan penambahan dan pengurangan, seperti: wa maa khalaqadzdzakara wal-untsaa dibaca wadz-dzakara wal-untsaa.

7. Perbedaan dialek dalam hal fat-hah dan imaalah, tarqiiq dan tafkhiim, hamz dan tashiil, peng-kasrah-an huruf-huruf mudhaara'ah, qalb (pengubahan) sebagian huruf, isybaa' miim mudzakkar, dan isymaam sebagian harakat. Contohnya: wa hal ataaka hadiitsu Muusaa dan balaa qaadiriina 'alaa an nusawwiya banaanahu dibaca dengan imaalah: atee, Muusee, dan balee, Contoh lainnya: khabiiran bashiiran dibaca dengan tarqiiq pada kedua huruf ra'-nya, ash-shalaah dan ath-thalaaq dibaca dengan tafkhiim pada kedua huruf lam-nya. Misalnya lagi: qad aflaha dibaca dengan menghapus huruf hamzah dan memindahkan harakatnya dari awal kata kedua ke akhir kata pertama, dan cara ini dikenal dengan istilah tashiilul hamzah. Contoh yang lain: liqaumin yi'lamuun, nahnu ni'lamu, wa tiswaddu wujuuhun, dan alam i'had dengan meng-kasrah-kan huruf-huruf mudhaara'ah dalam semua fi'il-fi'il ini. Contoh lain: hattaa hiin dibaca 'attaa 'in oleh suku Hudzail, yakni dengan mengganti huruf ha' menjadi huruf 'ain. Contoh lain: 'alaihimuu daa'iratus sau' dengan meng-isybaa'-kan huruf mim dalam dhamiir jamak mudzakkar. Contoh lain: wa ghiidhal-maa'u dengan meng-isybaa'-kan dhammah huruf ghain bersama kasrah.

Kesimpulan: Ahruf sab'ah (tujuh huruf) adalah tujuh dialek yang tercakup dalam bahasa suku Mudhar dalam suku-suku Arab, dan ia bukan qiraa'at sab' atau qiraa'at 'asyr yang mutawatir dan masyhur. Qiraa'at-qiraa'at ini, yang merebak pada masa Tabi'in lalu semakin terkenal pada abad 4 H setelah munculnya sebuah buku mengenai qiraa'at karya Ibnu Mujahid (seorang imam ahli qiraa'at), bertumpu pada pangkal yang berbeda dengan yang berkaitan dengan ahruf sab'ah, namun qiraa'at-qiraa'at ini bercabang dari satu harf di antara ahruf sab'ah. Hal ini diterangkan oleh al-Qurthubi.

Selanjutnya pembicaraan mengenai ahruf sab'ah menjadi bernuansa historis. Dahulu, ahruf sab'ah dimaksudkan sebagai kelapangan, ditujukan agar manusia-pada suatu masa yang khusus-mudah membacanya karena darurat: sebab mereka tidak dapat menghafal Al-Qur'an kalau tidak dengan dialek mereka sendiri, sebab mereka dahulu buta huruf, hanya sedikit yang bisa menulis. Kemudian kondisi darurat tersebut lenyap, dan hukum ahruf sab'ah tersebut terhapus, sehingga Al-Qur'an kembali dibaca dengan satu harf. Al-Qur'an hanya ditulis dengan satu harf semenjak zaman Utsman, yang mana penulisan huruf-huruf di dalamnya kadang berbeda-beda, dan itu adalah harf (dialek) Quraisy yang Al-Qur'an turun dengannya. Hal ini dijelaskan oleh ath-Thahawi, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Hajar, dan lain-lain.

[Selanjutnya: D. AL-QUR'AN ADALAH KALAM ALLAH ....]

Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4 
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login