SURAH AL-BAQARAH 21 - 24

AL-BAQARAH (3)

FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 21 - 24]

PERINTAH UNTUK MENYEMBAH ALLAH SEMATA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MENUNTUTNYA
Surah al-Baqarah 21-22

Ibadah, yang artinya mengesakan Allah dan melaksanakan hukum-hukum agama-Nya, hanya patut dilakukan kepada Allah sang Pencipta dan sang Pemberi rezeki. Ibadah yang tulus kepada Allah menjadi sebab tertanamnya akar ketakwaan kepada Allah 'Azza wa Jalla. Makanya orang-orang yang bertakwa tidak akan berani melanggar perintah dan melakukan maksiat.

Bahwa bumi adalah "hamparan” (yakni berbentuk datar untuk dijadikan pijakan supaya bisa ditempati) tidak bermakna hamparan (karpet/permadani) sebagaimana yang kita kenal, yang dipakai untuk tiduran. Jadi, barangsiapa bersumpah tidak tidur di atas hamparan, lantas dia tidur di atas permukaan tanah, maka dia tidak terhitung melanggar sumpahnya menurut mazhab Hanafi dan Syafi'i, sebab kata "hamparan” itu-menurut adat kebiasaan-tidak bermakna bumi. Sumpah diterapkan kepada kata-kata yang sudah dikenal menurut kebiasaan, sementara tidak ada kebiasaan yang memakai kata "hamparan” ini untuk bumi. Adapun mazhab Maliki menerapkan sumpah kepada niatnya, atau kepada sebab dan keadaan yang melatarbelakangi sumpah itu. Jika hal itu tidak ada, maka yang berlaku adalah adat kebiasaan, dan jika semua itu tak ada, sumpah diberlakukan atas arti kata yang bersangkutan dalam bahasa.

Ayat ini menunjukkan pengesaan Allah, membuktikan adanya sang pencipta yang tak serupa dengan segala sesuatu, yang Mahakuasa sehingga tak ada sesuatu pun yang tak sanggup dilakukan-Nya. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah langit yang terpasang di tempat yang tinggi tanpa tumpuan tiang yang dapat kita lihat, dan langit itu kekal sepanjang masa tanpa mengalami perubahan, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya :

"Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya." (al-Anbiyaa': 32)

Demikian pula bumi yang kokoh dan berada di tempatnya tanpa sandaran, meski ia beredar dan berputar di angkasa, merupakan bukti keesaan Allah, bahwa pencipta bumi ini Mahakuasa dan Dia mampu melakukan segala sesuatu. Di sana terkandung imbauan agar kita menjadikan bumi ini sebagai bukti akan eksistensi Allah, terkandung pula aspek yang mengingatkan kita akan karunia-Nya, yakni dari dalam bumi Dia mengeluarkan aneka macam buah-buahan dan beragam tumbuhan sebagai makanan bagi manusia dan hewan. Allah telah menjelaskan hal ini dalam firman-Nya :

"Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” ('Abasa: 25-32)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Ta'ala telah mencukupi kebutuhan manusia sehingga tidak memerlukan uluran tangan orang lain. Nabi saw. pernah menyinggung konsep ini dalam sabdanya:

"Demi Allah, jika seseorang mengambil talinya lalu mencari kayu bakar dan menggendongnya di punggung (untuk dijual agar mendapat uang), itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain, baik ia diberi maupun tidak”

Al-Qurthubi menulis: Makna "mencari kayu bakar” di sini mencakup semua jenis pekerjaan, berupa kerajinan tangan dan sebagainya. Barangsiapa meminta-minta kepada manusia lain karena faktor tamak dan rakus serta ingin meraup hiasan duniawi, maka berarti dia telah sedikit mengadakan sekutu bagi Allah.

Firman Allah (وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ) menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk mempergunakan argumen-argumen logika dan menolak taklid, sebab orang-orang musyrik sebenarnya tahu bahwa yang memberi nikmat kepada mereka adalah Allah, bukan sekutu-sekutu yang mereka sembah, merekapun dapat mengetahui keesaan-Nya seandainya mereka mau merenung, berpikir, dan memfungsikan akal pikiran mereka, sehingga tak ada gunanya perantara-perantara yang mereka klaim itu, yang diungkap dalam firman-Nya :

"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (az-Zumar: 3)

TANTANGAN KEPADA KAUM YANG INGKAR AGAR MEREKA MENYUSUN KALIMAT YANG SERUPA DENGAN SURAH TERPENDEK DALAM AL-QUR'AN
Surah al-Baqarah Ayat 23-24

Ayat (وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍۢ) menunjukkan kebenaran kenabian nabi kita shalla-Ilaahu 'alaihi wa sallam dari beberapa aspek berikut.

Aspek Pertama : Allah menantang mereka agar membuat kalimat yang serupa dengan Al-Qur'an, dan mencela mereka lantaran tak sanggup memenuhi tantangan ini padahal mereka mempunyai sikap yang angkuh dan semangat yang menggelora, padahal Al-Qur'an ini tersusun dalam bahasa mereka. Sekiranya mereka mampu menyainginya, niscaya hal itu akan menjadi senjata paling ampuh untuk menyanggah klaim Muhammad dan mencerai-beraikan para sahabatnya dari pengaruhnya. Karena sudah kelihatan bahwa mereka tidak sanggup menyainginya, hal ini membuktikan bahwa Al-Qur'an berasal dari Allah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu, bahwa manusia takkan sanggup membuat yang serupa dengannya. Ini adalah mukjizat Nabi Muhammad saw. yang kekal sepeninggal beliau hingga datangnya hari Kiamat. Mukjizat ini sesuai dengan sifat bangsa Arab yang membanggakan kepandaian mereka dalam bertutur kata yang tak tertandingi oleh bangsa-bangsa lain. Maka Allah Ta'ala menjadikan mukjizat Nabi Muhammad yang terbesar berupa sebuah kitab yang tak dapat disaingi oleh mereka maupun oleh manusia-manusia lain dalam hal susunannya, kefasihannya, dan _balaaghahnya_. Mukjizat ini efeknya lebih kuat ketimbang mukjizat-mukjizat materi di zaman lampau, seperti tongkat Nabi Musa dan tangannya pada era sihir, serta kemampuan Nabi Isa dalam menyembuhkan orang buta dan orang yang berpenyakit kusta serta menghidupkan orang mati pada era kedokteran.

Aspek kedua : Semua orang, baik yang beriman maupun yang ingkar kepada kenabian Nabi Muhammad saw., mengakui bahwa beliau termasuk manusia yang paling sempurna akalnya, paling tinggi budi pekertinya, dan paling bagus gagasannya. Tak seorang pun yang menyangkal kesempurnaan akal beliau, keluarbiasaan sikap santun beliau, kelurusan pemahaman beliau, dan kebagusan pendapat beliau. Maka bagi orang yang seperti ini tidak mungkin dia mengaku sebagai nabi sementara dia mengajukan tanda kenabiannya berupa kalimat/kitab yang setiap orang Arab sanggup membuat kalimat sejenis yang serupa dengannya, sehingga dengan begitu tampak kebohongannya dan gugurlah pengakuan kenabiannya. Ini menunjukkan bahwa dia menantang mereka dengan suatu kalimat yang berasal dari Allah, yang mana manusia tak sanggup membuat kalimat yang serupa dengannya.

Aspek ketiga : Dengan firman-Nya "kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidakakan dapat membuat (nya)" (al-Baqarah: 24), Allah Ta'ala memberi tahu bahwa mereka tidak mampu menyainginya, dan ini adalah pemberitaan tentang sesuatu yang gaib, dan berita ini terbukti kebenarannya seiring perjalanan waktu. Abu Bakar al-Jashshash menulis:  Allah telah menantang semua makhluk, baik jin maupun manusia, bahwa mereka pasti takkan mampu membuat kalimat yang seperti Al-Qur'an. Dia berfirman :

"Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain” (al-Israa': 88)

Setelah ketidaksanggupan mereka terbukti, Dia berfirman :

"Maka datangkanlah sepuluh surah yang dibuat-buat yang menyamainya.” (Huud: 13)

Dan setelah mereka tetap tak sanggup, Dia berfirman :

"Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Quran itu jika mereka orang-orang yang benar” (ath-Thuur: 34)

Jadi, Allah telah menantang mereka agar membuat kalimat seperti surah paling pendek dalam Al-Qur'an, lalu setelah tampak bahwa mereka tidak sanggup melakukannya dan mereka kalah argumen, mereka akhirnya beralih dari metode adu argumen dan bertekad untuk mengambil jalan perang, sehingga akhirnya Allah memerintahkan Nabi saw. untuk memerangi mereka.

Kesimpulan : Tantangan itu bervariasi, kadang berupa tantangan untuk membuat susunan kalimat dengan makna yang tinggi, kadang pula berupa tantangan untuk membuat susunan kalimat saja yang indah tanpa menilai maknanya, yaitu dengan mengada-adakan suatu kalimat yang tiada artinya.

Namun terlihat mereka gagal dalam segala bentuk tantangan itu.

Ayat (فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟ وَلَن) menunjukkan terbuktinya ketidaksanggupan secara total untuk menyaingi Al-Qur'an, sekaligus menunjukkan bahwa orang-orang kafir pantas disiksa di dalam neraka lantaran mereka mengingkari kenabian Muhammad saw. dan tidak mengimani Al-Qur'an. Ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang takut kepada neraka pasti tidak menentang seruan Islam, dan bahwa neraka-di zaman sekarang dan sejak dahulu kala-telah diciptakan, sudah ada dan disiapkan untuk orang-orang durhaka, orang-orang fasik, dan orang-orang kafir. Kata al-Qurthubi : Ini menjadi bukti benarnya pendapat yang mengatakan bahwa neraka sudah ada, sudah diciptakan: berbeda dengan pendapat para penganut bid'ah (ajaran sesat) yang mengatakan bahwa hingga kini neraka belum diciptakan.

Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4 
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login