SURAH AL-A'RAAF: 11-18

AL-A'RAAF (5)

AL-A'RAAF: 11-18

PEMULIAAN KEMANUSIAAN DENGAN SUJUD KEPADA ADAM, PENYESATAN SETAN DAN PENGUSIRANNYA DARI SURGA

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Ayat-ayat tersebut menunjukkan hal-hal sebagai berikut.

1. Pemuliaan jenis manusia dengan sujudnya para malaikat kepada asal-usul manusia, yaitu Adam, bapak manusia.

2. Penciptaan dan pembentukan adalah milik Allah SWT semata. Tidak seorang pun dari manusia yang mampu melakukan sedikit dari keduanya. Penciptaan (الخَلْقُ) menurut bahasa adalah pengukuran (taqdir). Taqdir Allah adalah ungkapan mengenai pengetahuan-Nya terhadap segala sesuatu dan kehendak-Nya untuk mengkhususkan segala sesuatu dengan ukuran tertentu. Pembentukan (التَّوِيْرُ) adalah ungkapan mengenai pembuktian bentuk-bentuk segala sesuatu yang ada di _Lauh Mahfudz_.

3. Penolakan iblis terhadap perintah Allah untuk bersujud kepada Adam adalah karena kesombongan dan tinggi hati. Ini karena dia memandang bahwa api yang darinya dia diciptakan adalah lebih mulia daripada tanah yang darinya Adam diciptakan. Api bisa meninggi, naik dan ringan. Selain itu, api adalah substansi yang menyala.

*Ibnu Abbas, Hasan al-Bashri, dan Ibnu Sirin* berkata, "Yang pertama kali menggunakan qiyas adalah iblis, lalu dia salah dalam ber-qiyas. Orang yang meng-qiyas-kan agama dengan pendapatnya, Allah akan mengumpulkan orang itu dengan iblis." *Ibnu Sirin* berkata, "Matahari dan bulan tidak disembah, kecuali karena qiyas-qiyas" Maksudnya, qiyas yang rusak yang darinya dianggap ada keutamaan api daripada tanah. Ini salah karena keterangan berikut ini.

Substansi tanah di dalamnya ada ketenangan dan diam, anggun dan santai, lembut, malu, dan sabar. Inilah yang membuat Adam untuk bertobat, tawadhu dan merendahkan diri, sedangkan api adalah alat menyiksa, yakni siksa Allah kepada musuh-musuhNya. Tanah bukanlah alat menyiiksa. Hal ini menunjukkan bahwa tanah lebih mulia daripada api. Qiyas iblis adalah qiyas yang rusak yang bertentangan dengan nash. Adapun qiyas yang shahih yang sesuai dengan nash maka harus diamalkan dalam syara’ karena serasi dengan nash. *Ath-Thabri* berkata, "Ijtihad dan istinbath (pengambilan hukum) adalah dari _kitabullah_, sunnah Nabi-Nya, dan ijmak umat Islam. Itu adalah yang benar dan wajib, yaitu kefarduan yang mengikat ulama.” Oleh kerena itu, ada hadits-hadits dari Nabi Muhammad saw., dari sekelompok sahabat, dan _tabi'in_. *Abu Tamam al-Maliki* berkata, "Umat Islam bersepakat pada keabsahan qiyas. Di antaranya adalah mereka sepakat meng-qiyas-kan emas dan uang dalam zakat."

4. Balasan menentang perintah Allah dari iblis mengharuskan dia diusir dari surga dalam keadaan hina, tercela, dimurkai, diusir, dan dijauhkan dari rahmat-Nya. Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh *Abu Na’im* dari *Abu Hurairah:* 

مَنْ تَوَا ضَعَ لِلَّه رَفَعَهُ اللّه

_“Barangsiapa yang tawadhu karena Allah, maka Ia akan mengangkat derajatnya.”_ *(HR Abu Na’im)*

Nabi Muhammad saw. juga bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh *ad-Dailami* dalam *al-Firdaus:*

"مَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللَّهُ."

_“Barangsiapa yang sombong, maka akan direndahkan Allah_ *(HR ad-Dailami)*

Sebagian orang berkata, "Ketika seseorang menampakkan kesombongan, dia diberi pakaian kehinaan."

5. Iblis meminta penangguhan waktu dan penundaan sampai hari kebangkitan dan hisab. Dia juga minta agar tidak mati sebab pada hari kebangkitan tidak ada kematian setelahnya. Lalu, Allah menangguhkan iblis sampai tiupan pertama ketika semua makhluk mati. Sebelumnya dia meminta penangguhan sampai tiupan kedua ketika semua orang berdiri menghadap Tuhan semesta alam. Akan tetapi, Allah tidak mau. Namun, demikian, penangguhan Allah kepada iblis sampai hari Kiamat tidak menghendaki penjerumusannya pada kejelekan sebab Allah SWT telah mengetahui bahwa iblis akan mati dalam keadaan kekufuran dan kefasikan yang paling buruk, baik Dia memberitahukan waktu matinya maupun tidak. Pemberitahuan ini tidak mengharuskan penjerumusannya dalam keburukan.

6 . Setan mempunyai peran dalam penyesatan sebagian manusia melalui cara bisikan kepada mereka. Kata (الإِغْوَاءُ) maksudnya menempatkan kesesatan dalam hati. Kata (الإِغَيُّ) artinya keyakinan yang batil. Firman Allah ( فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى) menunjukkan bahwa Allah SWT menyesatkan iblis dan menciptakan kekufuran di dalam dirinya. Oleh karena itu, penyesatan dinisbahkan kepada Allah SWT inilah yang benar dan madzhab Ahlus Sunnah. Tidak ada di alam ini kecuali dia diciptakan dan muncul dari kehendak Allah SWT.

7. Yang dimaksud dengan *firman Allah SWT (أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ),* adalah bahwa setan terus-menerus membuat kerusakan dengan tanpa letih. Ayat ini menunjukkan bahwa iblis mengetahui agama yang benar dan jalan hidup yang benar sebab kata (صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ) adalah agama-Nya yang haq.

8. Upaya penyesatan yang dilakukan setan tidak terbatas pada satu cara. Tetapi dari berbagai sisi kehidupan. Jadi, seyogianya waspada terhadap setan. Oleh karena itu, tersebut dalam hadits, permohonan perlindungan dari kekuasaan setan terhadap manusia dari semua sisi, sebagaimana diriwayatkan oleh *al-Hafidz Abu Bakar al-Bazzar* dalam musnadnya dari *Ibnu Abbas*, dia berkata, *"Rasulullah saw. berdoa:*


اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي. اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

_"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan kewarasan dalam agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah tutuplah aurat-auratku, berilah keamanan pada rasa takutku, jagalah aku dari depanku, belakangku, sebelah kananku, sebelah kiriku dan atasku. Aku berlindung kepada-Mu ya Allah diperdaya dari bawahku,_ (maksudnya terkubur di tanah)."

9. *Ayat (قَالَ ٱخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًۭا مَّدْحُورًۭا ۖ لَّمَن تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكُمْ أَجْمَعِينَ)* menunjukkan bahwa orang yang mengikuti dan diikuti akan memenuhi Jahannam. Ini mencakup orang kafir dan orang fasik yang menunjukkan secara pasti masuknya orang fasik ke dalam neraka. Yang tersebut di dalam ayat adalah Allah SWT memenuhi Jahannam dengan orang yang mengikuti iblis. Dalam ayat ini, tidak ada petunjuk bahwa semua orang yang mengikutinya akan masuk Jahannam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa semua penganut bid'ah dan kesesatan akan masuk Jahannam sebab mereka semua mengikuti iblis.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login