
AL-BAQARAH (1)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 1 - 10]
SIFAT-SIFAT ORANG BERIMAN DAN GANJARAN ORANG BERTAKWA
Surah al-Baqarah Ayat 1-5
Ini adalah sifat-sifat kaum mukminin serta manhaj dan undang-undang mereka dalam kehidupan yang islami: iman yang menyeluruh dan sempurna terhadap segala perkara yang gaib, seperti Dzat Allah Ta'ala, malaikat, dan akhirat yang diberitakan oleh Al-Qur'an. Iman tersebut diiringi dengan amal saleh, yaitu mendirikan shalat fardhu, berinfak di jalan Allah dalam jihad, membantu orang-orang fakir miskin dan melakukan sedekah sukarela, menunaikan nafkah yang wajib terhadap istri, anak, dan kaum kerabat. Iman kepada apa yang diturunkan Allah tidak terbagi-bagi. Jadi, harus beriman secara mendetail kepada semua hal yang diturunkan Allah Ta'ala di dalam Al-Qur'an dan beriman secara global kepada kitab-kitab dan shuhuf samawi yang diturunkan sebelum Al-Qur'an. Dan perlu diingat bahwa dalam hal iman, kadar yang tidak sampai pada tahap yakin tidak ada nilainya.
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa takwa, yang artinya takut melakukan pelanggaran, adalah pangkal segala kebaikan. Takwalah yang diwasiatkan Allah kepada umat manusia zaman lampau dan zaman kini. Takwa adalah perkara terbaik yang diperoleh seorang manusia, sebagaimana dikatakan Abu Darda'.
Siapa pun yang memiliki sifat-sifat kaum mukminin yang disebutkan di atas, maka Al-Qur'an menjadi petunjuk baginya. Artinya, Al-Qur'an menjadi imam/pembimbingnya dalam semua amal dan tingkah lakunya. Dia tidak menyimpang dari jalur yang digariskan Al-Qur'an. Dengan begitu dia telah menjamin dirinya akan mendapatkan keselamatan di alam akhirat dan kebahagiaan serta ketenangan di dunia. Musyaar ilaih (objek yang ditunjuk, yaitu kaum mukminin), menurut jumhur, adalah satu. Isyarat (kata tunjuk ulaa'ika) diulangi (dua kali) untuk memberi tahu bahwa harus terwujud kedua sifat itu agar terealisir putusan bahwa mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan dan bahwa merekalah orang-orang yang beruntung. Mujahid berkata: "Di awal surah al-Baqarah ada empat ayat tentang sifat kaum mukminin, dua ayat tentang sifat kaum kafir, dan tiga belas ayat tentang sifat kaum munafik."
SIFAT-SIFAT KAUM KAFIR
Surah al-Baqarah Ayat 6-7
Di dalam kedua ayat ini terkandung hiburan kepada Nabi saw. karena duka beliau lantaran didustakan oleh kaumnya. Jadi, beliau tidak perlu menyesal bagi mereka, tidak perlu terlalu berharap akan iman mereka, serta tiada celaan atas diri beliau gara-gara tidak berimannya mereka.
Makna "hati dikunci mati” adalah mereka tidak mengerti kebenaran, sedangkan arti "pendengaran dan penglihatan ditutup” adalah mereka tidak memahami Al-Qur'an apabila dibacakan kepada mereka, atau artinya mereka tidak memandang/memperhatikan makhluk-makhluk Allah, atau artinya mereka diseru untuk mengesakan Allah tetapi mereka tidak mau beriman. Semua itu disebabkan mereka kafir dan ingkar, bukan disebabkan adanya suatu cela dalam Al-Qur'an atau kelalaian Muhammad atau seseorang sesudah beliau berusaha memberi dalam menyampaikan hidayah kepada mereka. Jadi, merekalah sendiri yang menyebabkan semua itu, mereka tidak mau mempergunakan sarana-sarana pengetahuan yang sehat untuk meyakini kebenaran dan mengamalkannya.
Jadi, ungkapan "mengunci mati hati, pendengaran, dan penglihatan” menunjukkan betapa kuatnya kekafiran tertanam dalam hati mereka sampai-sampai mereka kehilangan faktor-faktor dan sarana-sarana yang dapat membimbing mereka untuk memandang dan memikirkan dalil-dalil dan keindahan-keindahan iman, sehingga mereka berada dalam keadaan atau kebiasaan yang akrab dengan pengingkaran dan pembangkangan. Penguncian hati, pendengaran, dan penglihatan mereka dinisbatkan kepada Allah Ta'ala karena untuk mengingatkan tentang sunnah Allah yang berlaku pada orang-orang yang serupa dengan mereka. Penisbatan hal ini kepada Allah bukan berarti bahwa mereka dipaksa (oleh Allah) untuk kafir, juga tidak berarti bahwa Allah sengaja menghalangi mereka untuk beriman. Itu tidak lain sekadar perumpamaan tentang sunnah Allah Ta'ala dalam hal pengaruh kekafiran dan dampaknya dalam hati mereka, bahwa kekafiran itu sampai menguasai hati mereka sedemikian rupa sampai hati mereka tidak lagi memiliki kesiapan untuk selain kekafiran tersebut. Perbuatan Allah itu terhitung adil dalam diri orang yang diabaikan-Nya dan dibiarkan-Nya terus-menerus berada dalam kesesatannya, sebab Allah tidak menghalanginya memperoleh suatu hak yang semestinya menjadi miliknya, sehingga hilang sifat keadilan: melainkan Dia hanya menghalangi mereka mendapatkan sesuatu yang dapat dianugerahkan-Nya kepada mereka, bukan suatu hak yang harus diberikan-Nya kepada mereka.
Hal ini dijelaskan dua ayat lain:
"Tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding” (Fushshilat: 4-5)
Jadi, meski bersikap takabur dan menentang, mereka tetap tidak keluar dari kekuasaan Allah. Dia adalah pencipta segala sesuatu, termasuk petunjuk/hidayah dan kesesatan, kekafiran dan keimanan, dan manusia sendirilah yang memilih salah satu dari dua jalan itu.
SIFAT-SIFAT KAUM MUNAFIK
Surah al-Baqarah Ayat 8-10
Kemunafikan adalah penyakit yang berbahaya. Orang-orang munafik menjadi duri yang menusuk masyarakat dari dalam. Kalau menurut perhitungan kita, semestinya kemunafikan dan orang-orang munafik itu dicabut dan diberantas sampai ke akar-akarnya agar negara selamat dari makar mereka, dan begitulah tindakan negara-negara sekarang, hanya saja wahyu ilahi dan tasyri' samawi mempunyai hikmah tersendiri yang berdampak mendalam dan berjangka panjang, menunggu kejadian-kejadian di masa depan, agar tampak bagi manusia betapa dangkalnya pengetahuan mereka dibanding luasnya ilmu Tuhan. Betapa sering Nabi saw. mendapat gangguan dari orang-orang munafik, akan tetapi pada akhirnya beliau menang atas mereka. Barangkali hal itu merupakan bukti sejarah yang paling nyata bahwa kemunafikan dan agama Yahudi adalah dua hal yang korelatif dan inheren (saling terkait dan tak terpisahkan), sebab ia timbul dari sikap lemah yang hakiki dan perangai yang keji. Orang munafik berlaku lunak dengan orang lain dalam perkataan dan perbuatannya serta menampilkan kelembutan, padahal sesungguhnya semua itu adalah racun mematikan yang disembunyikan di dalam lemak.
Ayat-ayat ini mengisyaratkan bahwa dusta adalah semboyan orang-orang munafik. Oleh sebab itu Allah memperingatkan orang-orang beriman dengan keras agar mereka menjauhinya. Bila dusta telah merajalela di suatu umat, pasti tindak kejahatan akan tumbuh subur di sana dan perbuatan-perbuatan hina akan menjadi-jadi. Nabi saw. pernah bersabda:
"Jauhilah dusta sebab dusta itu bertentangan dengan iman."
Jika dusta adalah semboyan orang-orang munafik, sebaliknya keterus-terangan dalam ucapan dan keberanian dalam perbuatan yang sesuai dengan keyakinan adalah semboyan orang-orang beriman yang pantas menerima pemuliaan setinggi-tingginya. Dengan demikian, pelajaran yang dipetik dari pemaparan sifat-sifat kaum munafik lebih besar dampaknya bagi kaum mukminin itu sendiri, sebab mereka berbeda: mereka teguh di atas kebenaran, sementara orang-orang munafik senantiasa dalam kemunafikan mereka dan semakin kuat berpegang kepada apa yang mereka peluk, mereka menolak iman dan berpaling dari Al-Qur'an, penyakit hati mereka semakin parah, jiwa mereka terbakar setelah nabi-sang pembawa kabar gembira dan peringatan-datang kepada mereka dan kejayaan beliau semakin meningkat serta pengikutnya kian banyak, sehingga mereka kehilangan posisi kepemimpinan, jiwa mereka terbakar dengan rasa dengki kepada Nabi saw. dan para sahabat beliau. ====
Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
2025/2026
