SURAH AL-AN'AAM: 93-94

AL-AN'AAM (28)

AL-AN'AAM: 93-94

MEMBUAT KEDUSTAAN ATAS NAMA ALLAH DAN HUKUMAN BAGI PELAKUNYA


Sebab Turunnya Ayat


*1. Ayat 93:*

*Ibnu Jarir ath-Thabari* meriwayatkan dari *Ikrimah* mengenai *firman Allah SWT (وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوْ)* dia berkata, "Ayat ini turun berkenaan dengan Musailamah, sedangkan ayat, (وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۗ) turun mengenai Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah. Dia dulu menulis untuk Nabi Muhammad saw. Beliau membacakan kepadanya kalimat (عَزِيْزٌحَكِيْمٌ).

Lalu, *Abdullah bin Saad* menulis (غَفُوْرًرَحِيْمٌ) dan membaca di hadapan Nabi. Nabi bersabda, ‘Ya, betul.’ Kemudian, Abdullah keluar dari Islam bergabung dengan orang-orang Quraisy."



*Ath-Thabari* meriwayatkan dari *as-Suddi* yang sama dengan itu dengan tambahan, "Jika Muhammad mendapatkan wahyu, aku juga mendapatkan wahyu. Jika Allah menurun¬ kan ayat kepadanya, aku juga bisa menurunkan ayat sebagaimana yang Allah turunkan. Muhammad berkata (سَمِيْعًا عَلِيْمًا) dan aku mengatakan (عَلِيْمًا حَكِيْمًا).

*2. Ayat 94:*

*Ibnu Jarir* dan lainnya meriwayatkan dari *Ikrimah*, dia berkata, "An-Nadhr bin al-Harits berkata, ‘Lata dan Uzza akan memberikan syafaat kepadaku.’ Lalu turunlah ayat (وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقْنَـٰكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍۢ وَتَرَكْتُم مَّا خَوَّلْنَـٰكُمْ وَرَآءَ ظُهُورِكُمْ ۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمْ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَـٰٓؤُا۟ ۚ).

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Kedustaan yang paling besar adalah engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia-lah yang menciptakanmu atau mengada-adakan kebohongan atas nama Allah dan mengaku telah mendapatkan kenabian dan wahyu atau juga menafikan kenabian dari seorang nabi, seperti Nabi Muhammad saw. dan mengklaim bahwa engkau mampu menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.

*Al-Qurthubi* mengatakan "Di antara bentuknya adalah orang yang berpaling dari syari'at, sunnah, dan sunnah para salaf, kemudian dia berkata, ‘Dalam benakku terlintas sesuatu, atau hatiku memberi informasi kepadaku.’ Setelah itu, mereka menetapkan sebuah hukum sesuai dengan apa yang ada dalam hati mereka dan terlintas dalam pikiran mereka. Mereka mengaku bahwa itu berasal dari hati dan pikiran mereka yang bersih dari kotoran dan penuh dengan ke¬ ikhlasan sehingga datanglah ilmu-ilmu Ilahi dan hakikat-hakikat rabbani. Mereka mengatakan bahwa hukum syari'at hanya berlaku bagi orang-orang yang bodoh dan kalangan umum saja. Adapun para wali dan orang-orang yang saleh, mereka tidak membutuhkan nash-nash syari'at lagi.”

Ada sebuah ungkapan, "Mintalah fatwa kepada hatimu meskipun para mufti telah memberi fatwa.” Mereka berdalil dengan peristiwa Nabi Khidhir yang mengambil ilmu melalui ilham tanpa bersandar pada ilmu yang dimiliki oleh Nabi Musa. Pendapat ini termasuk zindiq dan kufur, ia wajib dibunuh dan tidak perlu diminta untuk bertobat atau dimintai keterangan lagi. Apa yang mereka lakukan berakibat pada batalnya ketetapan Allah dan menyebabkan lahirnya keyakinan akan adanya nabi setelah Nabi Muhammad saw..

Patut untuk kita syukuri bahwa cerita dongeng dari orang-orang yang mengaku nabi itu telah selesai ditelan masa tanpa tersisa sebab ia tidak sejalan dengan kehidupan.

Ayat di atas menunjukkan bahwa proses pencabutan nyawa orang kafir sangat keras dan menyakitkan, sedangkan orang Mukmin prosesnya mudah dan lembut, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits mutawatir dari Abu Hurairah dan lainnya. Pasalnya, ruh orang Mukmin keluar dengan penuh kegembiraan karena akan bertemu dengan Allah. Ruh orang kafir dicabut dengan keras dan dikatakan kepadanya, "Wahai jiwa yang jelek! Keluarlah dengan kemurkaan menuju adzab Allah dan kehinaannya," sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam hadits yang diriwayatkan oleh *Imam Ahmad, Bukhari Muslim, dan al-Baihaqi* dari *Abi Musa al-Asy’ari*:

_"Barangsiapa yang rindu bertemu Allah maka Allah juga rindu bertemu dengannya, Barangsiapa yang enggan bertemu Allah, maka Allah juga enggan bertemu dengannya”_ *(HR Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, dan al-Baihaqi)*

Harta dan kenikmatan-kenikmatan dunia tidak bermanfaat pada hari akhir. Dalam sebuah hadits shahih, disebutkan bahwa *Rasulullah saw. bersabda:*

_“Manusia berkata, ‘Hartaku, hartaku! Hartamu adalah apa yang kamu makan lalu kamu habiskan, atau apa yang kamu pakai lalu menjadi usang, atau yang kamu sedekahkan dan menjadi simpanan bagimu. Selain itu akan hilang dan menjadi warisan.”_

Harta yang telah ia usahakan dan dia habiskan umurnya untuk memperolehnya, nanti akan ia tinggalkan dan tidak akan berguna baginya. *Aliah berfirman: (وَتَرَكْتُم مَّا خَوَّلْنَـٰكُمْ وَرَآءَ ظُهُورِكُمْ ۖ )*

Demikian juga dengan sekutu dan berhala-berhala yang disembah selain Allah tidak akan memberikan manfaat. Semuanya tidak akan berguna pada hari Kiamat di hadapan Allah dan pada saat hisab. *Allah berfirman: (وَضَلَّ عَنكُم مَّا كُنتُمْ تَزْعُمُونَ)*. "Apa yang kalian jadikan bahan kedustaan di dunia telah lenyap. Diriwayatkan bahwa ayat ini turun kepada an-Nadhr bin al-Harits. *Imam Muslim* meriwayatkan bahwa Aisyah membaca firman Allah: (وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقْنَـٰكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍۢ). Lalu, ia berkata, "Wahai Rasulullah, betapa malunya nanti! Laki-laki dan perempuan akan dikumpulkan dalam satu tempat. Mereka akan saling memandang aurat yang lain." Lalu *Rasulullah saw. berkata:*

_"Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya, *(Abasa: 37).* Laki-laki tidak akan memandangi perempuan dan perempuan juga tidak akan memandang laki-laki. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri”_ *(HR. Muslim)*.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login