AL-AN'AAM (16)
AL-AN'AAM: 50-53
ILMU NABI SAW. BERSUMBER DARI WAHYU DAN TUGASNYA ADALAH MEMBERIKAN PERINGATAN SERTA TIDAK MENGUSIR ORANG-ORANG LEMAH
Sebab Turunnya Ayat 52
*Ibnu Habban dan Hakim* meriwayatkan dari *Sa’ad bin Abi Waqash*, ia mengatakan bahwa ayat ini telah diturunkan kepada enam orang: aku, Ibnu Mas'ud, dan empat orang lainnya. Mereka berkata kepada Rasulullah saw., "Usirlah mereka karena kami malu jika kami menjadi pengikut Anda seperti mereka." Rasulullah saw. merasakan sesuatu di dalam hatinya. Lalu, Allah menurunkan ayat: (وَلَا تَطْرُدِ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ) sampai ayat (أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَعْلَمَ بِٱلشَّـٰكِرِينَ). Saya (penulis) akan menyebutkan hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam tema yang sama.
*Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Ibnu Mas'ud,* ia mengatakan seorang pembesar kaum Quraisy melintas di depan Rasulullah saw. dan di hadapannya ada Khabbab bin al-Art, Shuhaib, Bilal, dan Ammar, lalu mereka berkata, “Wahai Muhammad, adakah kamu rela dengan mereka? Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka? Kalau saja kamu mengusir mereka ini tentu aku akan menjadi pengikutmu." Kemudian, Allah SWT menurunkan ayat Al-Qur’an (وَأَنذِرْ بِهِ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحْشَرُوٓا۟).
*Ibnu Jarir ath-Thabari dan Ibnu Mandzur* meriwayatkan hadits dari *Ikrimah*, ia berkata, ‘"Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Muthi’im bin ‘Addi, dan al-Harits bin Naufal", pemuka bani Abdi Manaf dari kelompok orang kafir datang kepada Abu Thalib. Mereka berkata kepadanya, ‘Jika anak saudaramu (Muhammad saw.) itu mengusir budak-budak ini, tentu sikap itu lebih kami hormati dan lebih kami terima, dan kami pun akan lebih mudah untuk mengikutinya.’ Abu Thalib pun berbicara kepada Nabi saw., lalu Umar bin Khaththab berkata, ‘Coba kita lakukan saja dan kita lihat apa respon mereka?"’ Lalu, Allah menurunkan ayat (وَأَنذِرْ بِهِ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحْشَرُوٓا۟) sampai (أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَعْلَمَ بِٱلشَّـٰكِرِينَ). Adapun budak-budak yang dimaksudkan itu adalah Bilal, 'Ammar bin Yasir, Salim budaknya Abu Hudzaifah, Shalih" budaknya Usayyid, Ibnu Mas'ud, al-Miqdad bin Amru", Waqid bin Abdullah al-Handzali, dan lain sebagainya. Lalu, Umar mendekat dan meminta maaf atas apa yang diucapkannya, dan turunlah ayat (وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِـَٔايَـٰتِنَا) sampai akhir ayat.
Kita perhatikan riwayat-riwayat ini tampak berbeda. Ada yang menyebutkan turunnya ayat sampai akhir ayat 53 dan sebagian lagi memasukkan dua ayat setelahnya (ayat 54-55). Riwayat pertama menyebutkan Ibnu Mas'ud bersama para pemuka Quraisy. Adapun riwayat kedua yang menyebutkannya bersamaan disertai dengan permintaan pengusiran mereka.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat ini memberikan petunjuk penting akan hukum-hukum yang terkait dengan aqidah, di antaranya sebagai berikut:
1. Sesungguhnya, Rasul tidaklah mengetahui rahasia Allah SWT dan tidak memiliki hak untuk mengatur alam semesta ini dan juga tidak mampu menurunkan mukjizat yang mereka minta.
2. Bahwa Rasul tidak mengetahui hal-hal gaib sebagaimana layaknya manusia lainnya.
3. Sesungguhnya, Rasul bukanlah malaikat yang bisa menyaksikan urusan Allah yang tak bisa disaksikan oleh manusia.
Hal ini menjadi dalil bagi orang yang berpendapat bahwa malaikat lebih utama daripada para nabi, sebagaimana mereka mengambil dalil dari *firman Allah SWT,*
_"Dan mereka berkata, 'Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.' Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak berbicara, mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintahperintah-Nya._ *(al-Anbiyaa’: 26-27)*
Adapun orang yang berpendapat Bani Adam lebih mulia daripada malaikat, mereka mengambil dalil dari *firman Allah SWT:*
_“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”_ *(al-Bayyinah: 7)*
*Lafazh (الْبرِيّةِ)* pada ayat tersebut berasal dari (الْرِيئةِ) yaitu (بَرَأَاللَّه الخَلْقَ) "Allah menciptakan makhluk." Begitu juga berdasarkan hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,
_“Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya sebagai wujud keridhaan bagi penuntut ilmu.”_ *(HR Abu Dawud)*
Begitu juga dalam beberapa hadits diriwayatkan bahwa Allah SWT membanggakan orang yang berilmu di hadapan para malaikat dan Allah tidak akan membanggakan kecuali orang yang memiliki keistimewaan.
4. Sesungguhnya, Rasul Mukmin tidak memiliki hak untuk menghisab dan membalas perbuatan orang-orang Mukmin.
5. Rasul hanya melakukan apa yang sesuai dengan wahyu, yakni ia tidak memutuskan perkara, kecuali yang sesuai dengan wahyu. Inilah yang menjadi pegangan orang-orang yang berpendapat bahwa Nabi tidak pernah berijtihad, bahkan semua hukumnya bersumber dari wahyu. Hal ini juga diperkuat dengan firman Allah SWT,
_"Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."_ *(an-Najm: 3-4)*
Sedangkan kelompok yang menolak adanya qiyas mengatakan "Jika Nabi hanya melakukan sesuatu yang sesuai dengan wahyu, umatnya tidak wajib melakukan apa pun kecuali yang ada dalam wahyu yang diturunkan kepadanya.”
Pendapat yang benar menurut pakar ushul fiqih adalah bahwa para nabi diperbolehkan berijtihad dan mempergunakan qiyas terhadap hukum yang telah ditetapkan sebab ia adalah salah satu dalil yang dipergunakan dalam syari'at. Adapun dalil-dali yang telah disebutkan sebelumnya hanyalah khusus untuk AlQur’an sebagai bantahan terhadap orangorang yang menyangka bahwa Muhammad saw. merekayasa Al-Qur’an dan juga untuk menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan kepadanya melalui wahyu Ilahi.
6. Tugas Rasul sama seperti para rasul lainnya, yaitu memberikan kabar gembira dan peringatan. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT (وَأَنذِرْ بِهِ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحْشَرُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّهِمْ ۙ).
7. Rasul saw. sebagai manusia terkadang ijtihadnya memilih bersikap untuk menjauhkan orang-orang fakir dan para budak dari majelisnya. Beliau berharap agar para pemuka dan pemimpin kaum mau masuk Islam dan akan mengislamkan para kaumnya. Nabi melihat bahwa hal tersebut tidak akan membuatnya lalai dari para sahabatnya dan tidak akan merendahkan kedudukan mereka sehingga beliau memilih bersikap demikian. Oleh karena itu, Allah segera menurunkan ayat (وَلَا تَطْرُدِ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ). Allah SWT mencegah Nabi saw. untuk merealisasikan keinginannya untuk mengusir mereka dan akhirnya hal itu tidak terjadi.
Kami telah meriwayatkan kisah mereka yang menjadi sebab turunnya ayat dan alangkah baiknya jika kita menyebutkan sebuah kisah lain yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya. Dari Sa’ad bin Abi Waqash mengatakan "Di saat kami sedang bersama Rasulullah saw., berkata, orang-orang musyrik kepada Nabi Muhammad saw., 'Usirlah mereka ini darimu supaya mereka tidak berani kepada kita.’ Sa’ad berkata, ‘Saat itu ada aku, Ibnu Mas'ud, seorang laki-laki dari Hudzail, Bilal, dan dua orang laki-laki yang tak kukenal namanya.’ Lalu, terlintaslah hal itu di benak Rasulullah saw.. Kemudian, Allah SWT menurunkan ayat (وَلَا تَطْرُدِ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ). Hal ini menjadi bukti lain bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah SWT karena secara logika sangat mustahil jika Nabi bermaksud melakukan sesuatu, kemudian melarang dirinya sendiri untuk melakukan hal itu. Tentu larangan tersebut berasal dari Tuhannya.
8. Dalam firman Allah SWT (وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍۢ) ada isyarat bahwa nasib manusia akan selalu berputar. Orang-orang kafir tidak akan selamanya mendapatkan kenikmatan dan berada dalam posisi di atas. Begitu juga dengan kondisi yang lemah yang telah dilalui orang-orang Mukmin dengan sabar suatu saat pasti akan mengalami pergantian sehingga orang yang kuat akan menjadi hina dan orang yang lemah menjadi mulia dengan Islam. Yang haq akan berkibar tinggi, daulah islam akan tegak di muka bumi, dan para pengikutnya yang akan mewarisi kepemimpinan. *Allah SWT berfirman:*
_“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi Jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat"_ *(Ibraahim: 7)*
_“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi),"_ *(al-Qashash: 5)*
9. Dalam ayat (وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا) juga mengisyaratkan bahwa sikap kaum musyrikin yang tidak mau beriman adalah sebuah pembangkangan dan penentangan yang bersumber dari sifat sombong dan angkuh, bukan didasarkan pada argumentasi dan bukti-bukti yang kuat. Demikian pula dalam ayat ini mengindikasikan bahwa masing-masing kelompok, baik dari golongan orang-orang kafir maupun dari orang-orang Mukmin, akan menjadi ujian antara satu dengan yang lainnya. Para pembesar dan orang-orang kaya dari kelompok kafir merasa iri terhadap para sahabat Nabi saw. yang fakir miskin atas kenikmatan Islam dan kebaikan yang mereka dapatkan.
Adapun para sahabat yang fakir merasa bahwa orang-orang kafir dilimpahi keluasan rezeki dan kemakmuran sehingga mereka mengatakan "Bagaimana orang-orang kafir bisa dalam kondisi seperti itu, sedangkan kita dalam kesusahan dan kesempitan?"===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
