AL-AN'AAM (6)
AL-AN'AAM: 17-19
KEKUASAAN ALLAH DALAM MENYINGKAP BAHAYA DAN KESAKSIANNYA ATAS KEBENARAN NABI SERTA BANTAHAN TERHADAP ORANG-ORANG MUSYRIK MENGENAI PAHAM _POLITEISME_
Sebab Turunnya Ayat 19
*Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas,* dia berkata, "An-Nahham bin Zaid, Qarum bin Ka’b, Bahri bin Umar mendatangi Rasulullah kemudian berkata, ‘Wahai Muhammad, kami tidak mengetahui ada Tuhan selain Allah.’ Lalu beliau bersabda, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah karena itulah aku diutus dan untuk itulah aku berdakwah." Lalu, Allah menurunkan ayat itu sesuai ucapan mereka (قُلْ أَىُّ شَىْءٍ أَكْبَرُ شَهَـٰدَةًۭ ۖ قُلِ ٱللَّهُ ۖ شَهِيدٌۢ بَيْنِى وَبَيْنَكُمْ ۚ).
*Al-Kalbi* berkata, "Para pembesar Mekah berkata, ‘Wahai Muhammad, kami tidak melihat seorang pun yang membenarkan risalah yang kamu katakan. Kami telah bertanya kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani tentang kamu. Mereka menegaskan bahwa mereka tidak mengetahui tentang dirimu atau sifatmu. Jadi, perlihatkan kepada kami orang yang dapat menjadi saksi bahwa kamu adalah rasul, sebagaimana kau katakan.’ Lalu Allah menurunkan ayat ini."
*Hasan al-Bashri* dan lainnya berkata, "Sesungguhnya orang-orang musyrik berkata kepada Nabi Muhammad saw., ‘Siapa yang dapat bersaksi bahwa kamu adalah Rasulullah?’ Lalu, turunlah ayat ini."
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Setiap yang memiliki sesuatu, dia mempunyai hak pengelolaan yang mutlak terhadap sesuatu itu. Setiap yang menciptakan sesuatu, dia kuasa untuk menarik apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya. Allah SWT adalah pemilik langit, bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Dialah pencipta segala sesuatu. Dia semata yang berkuasa untuk mendatangkan manfaat bagi makhluk-Nya dan menjauhkan bahaya dari makhluk-makhluk-Nya. Wahai Muhammad dan semua manusia di alam ini, jika turun kepadamu kesulitan karena fakir atau sakit, tidak ada yang menghilangkan atau memalingkannya kecuali Dia. Jika engkau mendapatkan kesehatan, kenyamanan, dan kenikmatan, Dialah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, baik itu kenikmatan maupun bahaya.
Allah Maha Berkuasa, Mahakuat dan mengatur hamba-hamba-Nya. Namun, aturan dalam perintah-Nya penuh dengan hikmah dan pengetahuan-Nya sangat sempurna mengenai amal perbuatan hamba-hamba-Nya.
Allah adalah yang terbesar, teragung, dan paling kuat persaksian-Nya. Dia adalah saksi yang haq terhadap keesaan-Nya dalam ketuhanan. Dia telah menunjukkan dalil-dalil dan bukti-bukti dalam diri makhluk dan alam mengenai keesaan-Nya. Adanya bukti-bukti mengenai keesaan-Nya adalah saksi paling besar dan paling agung.
Dia meletakkan dalam fitrah manusia perkara-perkara yang menunjukkan pada keimanan terhadap Tuhan Yang Esa yang memiliki sifat-sifat yang sempurna. Orang-orang yang adil dan berakal menyaksikan keesaan-Nya, sebagaimana *firman Allah SWT*,
_“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana."_ *(Aali ‘Imraan: 18)*
Allah menyaksikan kebenaran risalah Rasul dengan mengabarkannya dalam Al-Qur'an,
_"Muhammad adalah utusan Allah."_ *(al-Fath: 29)*
_“Sungguh, Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,"_ *(al-Baqarah: 119)*
Allah juga bersaksi mengenai dukungan-Nya berupa mukjizat-mukjizat, yang paling penting adalah Al-Qur’an, mukjizat Islam yang paling besar yang lestari sampai hari Kiamat. Kitab-kitab sebelumnya memberikan kesaksian terhadap Al-Qur’an. Para rasul sebelumnya memberikan kabar gembira mengenai Al-Qur’an. Inilah yang masih ada dalam kitab-kitab Yahudi dan Nasrani. Semua kesaksian yang menguatkan ini menunjukkan bahwa Allah menjadi saksi antara Nabi-Nya Muhammad saw. dan orang-orang musyrik bahwa Nabi menyampaikan risalah kepada mereka, menunaikan amanah, membenarkan ucapan, dan menasihati umat. Juga menunjukkan bahwa Allah menjadi saksi pembuktian keesaan, serta pelepasan diri dari para sekutu dan bandingan Allah.
Nabi Muhammad saw. diperintahkan untuk menyampaikan Al-Qur’an dan sunnah karena *firman-Nya*,
_“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu."_ *(al-Maa’idah: 67)*
Di dalam *Shahih Bukhari*, disebutkan dari *Abdullah bin Amr* dari *Nabi Muhammad saw. beliau bersabda:*
_“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”_ *(HR Bukhari)*
*Muqatil* berkata, _"Barangsiapa yang telah sampai kepadanya Al-Qur’an, baik jin maupun manusia, ia menjadi pemberi peringatan baginya."_
Di antara perkara yang diwahyukan kepada Nabi yang dijadikan sebagai peringatan bahwa tauhid adalah haq dan wajib dan kemusyrikan adalah sesuatu yang batil dan tertolak. Kecaman Al-Qur’an terhadap kemusyrikan dan orang-orang musyrik sangatlah keras. Al-Qur’an mencela, menghardik, dan mengingkari mereka dalam ayat ini dan juga ayat lainnya atas perbuatan mereka yang menjadikan sekutu bersama Allah. Jika sekiranya mereka meminta Nabi untuk bersaksi atas kemusyrikan mereka. Nabi tidak akan bersaksi seperti kesaksian mereka atau Nabi tidak bersaksi bersama mereka. Jika terbukti adanya kebatilan kemusyrikan, ucapan keesaan adalah perintah yang sudah ditentukan. Ucapan keesaan Allah dan pelepasan diri dari kemusyrikan adalah yang diucapkan oleh Nabi dan orang-orang Mukmin.
*Firman Allah (قُل لَّآ أَشْهَدُ ۚ)* menunjukkan kewajiban untuk bertauhid dan melepaskan diri dari kemusyrikan. Hal ini dilihat dari tiga sisi.
_Pertama_, firman Allah (قُل لَّآ أَشْهَدُ ۚ) aku tidak mengakui apa yang kalian sebutkan mengenai adanya sekutu bagi Aliah.
_Kedua_, firman Allah (قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَـٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ), lafazh (إِنَّمَا) menunjukkan pembatasan makna. Kata (وَٰحِدٌ) adalah penegasan ketauhidan dan penafian adanya sekutu-sekutu.
_Ketiga_, firman Allah (وَإِنَّنِى بَرِىٓءٌۭ مِّمَّا تُشْرِكُونَ ) di sini ada pernyataan tegas mengenai pelepasan diri dari adanya sekutu bagi Allah.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
