SURAH AL-MAA'IDAH: 105

AL-MA'IDAH (35)

AL-MAA'IDAH: 105

BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH SETELAH MELAKUKAN AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR

SEBAB TURUNNYA AYAT

*Al-Wahidi* menuturkan dari *Ibnu Abbas*, “Rasulullah saw. menulis surat kepada penduduk Hajar melalui Mundzir bin Sawi. Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam.

Jika enggan, mereka harus membayar jizyah. Ketika surat itu sampai kepada Mundzir, dia menginformasikan hal tersebut kepada orang-orang Arab, Yahudi, Nasrani, Shabi’in, dan Majusi yang ada di sekitarnya. Mereka memutuskan untuk membayar jizyah dan enggan masuk Islam. Rasulullah saw. menulis surat kepada Mundzir:

_“Adapun orang Arab maka janganlah kamu terima dari mereka kecuali Islam atau pedang. Adapun Ahli Kitab dan Majusi, maka terimalah jizyah dari mereka.”_

Ketika Mundzir membacakan kepada mereka surat dari Rasulullah, orang-orang Arab masuk Islam, sedangkan Ahli Kitab dan Majusi membayar jizyah. Orang-orang munafik Arab berkata, "Aneh sekali Muhammad, dia mengira bahwa Allah mengutusnya untuk memerangi semua manusia sampai mereka masuk islam dan tidak mau menerima jizyah kecuali dari Ahli Kitab. Dia menerima jizyah dari orang-orang musyrik Hajar, tetapi menolaknya dari orang-orang musyrik Arab.” Lalu, Allah menurunkan ayat (لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ ۚ)

Ini adalah salah satu riwayat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud bukanlah Ahli Kitab, berdasarkan riwayat dari Imam Ahmad yang berbunyi, "Abu Bakar berdiri (khutbah), memuji Allah, menyanjung-Nya kemudian berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini (يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ ۚ)

Aku mendengar *Rasulullah saw. bersabda:*

_“Jika manusia melihat sebuah kemungkaran tapi tidak mau mengubahnya, maka Allah hampir saja meratakan siksa-Nya kepada mereka.”_ *(HR Imam Ahmad)_

Perawi tersebut berkata, "Aku mendengar Abu Bakar berkata, 'Wahai manusia, jauhilah dusta, sesungguhnya dusta bertentangan dengan iman."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh pemilik empat Sunan, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dan juga perawi lain dari beberapa jalur. Ada yang beberapa perawi dari Isma’il bin Abi Khalid dengan sanad yang bersambung dan marfu’. Di antara mereka ada yang meriwayatkan dengan sanad hadits yang mauquf pada Abu Bakar Shiddiq. Ad-Daruquthni dan lainnya berpendapat bahwa hadits ini marfu’.

Begitu juga ada hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Abi Umayyah AsySya'bani dia berkata, "Aku mendatangi Abu Tsa’labah al-Khusyani, lalu aku berkata kepadanya, ‘Bagaimana kamu memahami ayat ini?’ Abu Tsa’labah berkata, ‘Ayat yang mana?’ Aku berkata, ‘Firman Allah SWT: (يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ ۚ). Dia menjawab, "Sungguh, aku telah menanyakannya kepada oang yang paling tahu. Aku menanyakannya kepada Rasulullah saw. beliau bersabda:

_"Lakukanlah amar Maruf nahi mungkar. Dan ketika kamu melihat sifat kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan, dan setiap orang bangga dengan pendapatnya, maka jagalah dirimu, tinggalkanlah masyarakat awam. Sesungguhnya, di belakang kalian ada hari-hari di mana orang yang sabar bagaikan orang yang menggenggam bara. Orang yang beramal pada saat itu sepadan dengan ganjaran lima puluh laki-laki, mereka beramal seperti amalan kalian!"_ *(HR at-Tirmidzi)*

Dalam riwayat yang lain ada tambahan, ada yang bertanya:

_“Wahai Rasulullah, ganjaran lima puluh laki-laki dari kita atau dari mereka? Nabi menjawab, “Lima puluh kali ganjaran dari kalian.”_

Kemudian *at-Tirmidzi* berkata, _"Ini adalah hadits hasan gharib shahih."_

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Kalau saja tidak ada riwayat dalam sunnah (hadits) dan pendapat para sahabat dan tabiin mengenai penafsiran ayat ini, sebagaimana telah disebutkan dalam sebab turunnya ayat ini, secara zahir ayat ini menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi mungkar tidak wajib jika seseorang sudah istiqamah dan juga seseorang tidak akan terkena hukuman akibat dari dosa yang dilakukan oleh orang lain,

_“Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab."_ *(al-An'aam: 164)*

Bagaimana pun juga ayat ini bisa dipahami tanpa merujuk kepada sunnah. Ayat ini hanya menuntut orang Mukmin—pertama-tama—agar memperbaiki diri, membekali diri dengan amal kebajikan, tidak bersandar pada orang lain dalam berbagai macam ibadah, dan menjauhi maksiat dan perbuatan buruk. Pasalnya, ada banyak ayat yang menuntut amar ma’ruf nahi mungkar sehingga tidak ada kontradiksi antarkeduanya.

Ayat ini berbicara tentang pembentukan kepribadian dan individu yang Muslim, sementara ayat-ayat yang menjelaskan amar ma’ruf nahi mungkar terkait dengan kehidupan bermasyarakat. Di dalamnya, terdapat perintah untuk saling menasihati, bekerja sama dalam kebaikan, memuliakan perbuatan terpuji, melakukan perlawanan terhadap perbuatan tercela, dan memerangi kemaksiatan serta kemungkaran.

*Said bin Musayyab* mengatakan bahwa makna ayat ini berlaku setelah ada upaya untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Adapun jika ayat ini turun berkenaan dengan orangorang non-Muslim, tidak ada masalah karena maknanya ialah jagalah saudara-saudara kalian sebab orang-orang yang sesat dari kaum kafir tidak dapat memberi mudharat kepada kalian. Amar ma’ruf nahi mungkar hukumnya fardhu 'ain selama ada kesempatan diterimanya kebaikan atau ada peluang untuk menghalangi kezaliman walaupun dengan cara yang keras. Jika orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar memiliki keyakinan atau dugaan kuat bahwa nasihatnya tidak akan berguna sehingga hal itu menyebabkan dia khawatir terhadap dirinya atau khawatir terjadi fitnah pada kaum Muslimin atau takut jatuh dalam kebinasaan, kewajiban ini menjadi gugur.

Di dalam ayat ini terdapat peringatan yang berlaku untuk umum sebab Allah SWT berfirman (إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًۭا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ) Maksudnya bahwa tempat kembali semua manusia adalah sama, baik itu orang-orang Mukmin maupun orang-orang yang melanggar, yaitu kepada Allah SWT, Yang akan membalas amal perbuatan kalian.====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login