SURAH ALI 'IMRAN 165 - 168

*ALI 'IMRAN (49)*

*ALI 'IMRAN 165-168*

*BEBERAPA KESALAHAN KAUM MUKMININ PADA PERANG UHUD DAN BEBERAPA BENTUK KEBUSUKAN KAUM MUNAFIK*

*SEBAB TURUNNYA AYAT*

*Sebab Turunnya Ayat 165:*
*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Umar Ibnul Khaththab r.a.*, ia berkata, "Pada perang Uhud, kaum Muslimin diberi ganjaran akibat perbuatan mereka pada perang Badar berupa menerima tebusan. Sehingga akibat hal itu, pada perang Uhud, 70 personil mereka gugur, para personil yang ada melarikan diri meninggalkan Rasulullah saw. di tengah medan pertempuran, gigi bagian depan beliau pecah, helm baja yang beliau kenakan pecah dan darah segar mengalir di wajah beliau. Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini." Umar mengatakan bahwa yang dimaksud ayat, _"qul huwa min 'indi anfusikum."_ (katakan, itu berasal dari kesalahan diri kalian sendiri) adalah sikap mereka yang menerima tebusan.



*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat 165 membuat perbandingan antara hasil-hasil perang Badar dan perang Uhud yang intinya adalah kaum Muslimin pada perang Uhud tertimpa musibah yang besar berupa terbunuhnya 70 personil mereka. Padahal pada perang Badar kaum Muslimin berhasil menimpakan dua kali lipat kekalahan yang sama kepada kaum musyrik pada perang Uhud, dengan berhasil membunuh tujuh personil dari kaum musyrik dan menawan 70 personil yang lain. Seorang tawanan kedudukannya sama dengan orang yang terbunuh, karena orang yang menawannya, dalam keadaan terpaksa bisa saja membunuhnya jika mau. Kaum musyrik pada perang Badar mengalami kekalahan, begitu juga pada awal perang Uhud, dengan terbunuhnya 20 personil mereka hanya dalam waktu dua hari.

Dan merupakan sebuah kesalahan jika mereka kaum Muslimin berkata, "Dari mana dan bagaimana kekalahan ini bisa datang menimpa kami, padahal kami berperang di jalan Allah SWT kami juga adalah orang-orang Muslim dan ada Nabi Muhammad saw dan wahyu di antara kami sedangkan mereka adalah orang-orang musyrik." Sebabnya adalah bahwa kekalahan mereka tersebut penyebabnya adalah berasal dari diri mereka sendiri, yaitu pelanggaran yang dilakukan oleh pasukan pemanah terhadap instruksi dan perintah Rasulullah saw. untuk tetap berada pada posisi mereka. Tidak ada sebuah kaum yang menaati Nabi mereka kecuali mereka akan mendapatkan pertolongan dan kemenangan. Karena jika mereka taat dan patuh, maka berarti mereka adalah hizbullaah dan hizbullaah itulah yang pasti menang.

Musibah yang menimpa mereka pada perang Uhud berupa jatuhnya korban baik yang terbunuh maupun terluka dan kekalahan, semua itu dengan ilmu, qadha' dan qadar Allah SWT. Karena ada hikmah dibalik itu semua, yaitu untuk mendidik, menempa dan memberi mereka pelajaran dan peringatan agar mereka jangan sampai melakukan pelanggaran serta untuk membedakan kaum Mukminin dari kaum munafik.

Ayat, (نَافَقُوا۟ ۚ وَقِيلَ لَهُمْ) yang dimaksud adalah Abdullah bin Ubai beserta kawan-kawannya yang memalingkan diri dan tidak mau membantu Nabi Muhammad saw. jumlah mereka ada 300 orang. Ketika mereka berbalik untuk kembali pulang, Abdullah bin Amr bin Haram al-Anshari Abu Jabir bin Abdullah mengikuti mereka lalu berkata kepada mereka, "Bertakwalah kalian kepada Allah SWT dan janganlah kalian meninggalkan Nabi kalian, marilah berperang di jalan Allah SWT atau lakukan pertahanan diri," atau perkataan-perkataan yang serupa. Lalu Abdullah bin Ubai berkata, "Saya melihat tidak akan terjadi pertempuran, jika kami mengetahui akan ada pertempuran, maka kami tentu akan ikut bersama kalian." Lalu ketika Abdullah bin Amr Abu Jabir sudah merasa putus asa membujuk mereka, maka ia berkata kepada mereka, "Pergilah kalian wahai musuh-musuh Allah SWT karena Allah SWT akan menjadikan Rasulullah saw. tidak butuh kepada kalian." Lalu ia kembali bergabung dengan pasukan yang lain dan akhirnya gugur sebagai syuhada. Semoga Allah SWT merahmatinya.

Ayat, (أَوِ ٱدْفَعُوا۟ ۖ) _"atau pertahankanlah diri kalian"_ menunjukkan bahwa membela tanah air sama seperti berperang di jalan Allah SWT. Ayat ini juga menunjukkan bahwa memperbanyak jumlah kaum Muslimin meskipun tidak semuanya ikut berperang, termasuk sebuah bentuk pertahanan dan pengendalian gerak langkah musuh. Kenyataan ini dikuatkan dengan adanya pasukan yang bersiap siaga di titik-titik lokasi yang bisa dijadikan celah oleh musuh untuk masuk menyerang kaum Muslimin. Karena jika seandainya tidak ada mereka, maka dipastikan pihak musuh akan datang menyerang kaum Muslimin melalui celah-celah tersebut.

Sikap kaum munafik ini menjadi sebab munculnya dua hal:

1. Terbongkarnya kemunafikan mereka bagi orang yang sebelumnya mengira bahwa mereka adalah orang-orang Muslim. Secara lahiriah, mereka menjadi lebih dekat kepada kekufuran, namun pada hakikatnya mereka memang orang-orang kafir. _"Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan."_ *(Ali 'Imran: 167)*

2. Terbongkarnya kebohongan mereka dan sikap mereka yang tidak tahu malu di dalam membuat kekeliruan-kekeliruan. Mereka menampakkan keimanan namun di dalam hati mereka, tersembunyi kekufuran, _"Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya."_ *(Ali 'Imran: 167)*

Di antara bukti tidak adanya keimanan di dalam hati mereka adalah komentar mereka tentang para saudara mereka -yaitu para syuhada dari Khazraj yang menjadi saudara mereka karena nasab dan saudara karena hubungan kedekatan, bukan saudara seakidah- yang gugur di medan juang, "seandainya mereka tetap tinggal di Madinah, maka tentunya mereka tidak akan terbunuh."

Lalu Al-Qur'an membantah mereka dengan bantahan yang mematikan dan mementahkan komentar mereka tersebut, yaitu, jika kalian memang benar, maka karena kalian berada di Madinah dan tidak ikut berperang, maka coba kalian tolak kematian dari diri kalian jika kalian memang benar. Hal ini menunjukkan bahwa kewaspadaan dan kehati-hatian tidak bisa mencegah takdir; juga bahwa orang yang terbunuh, ia terbunuh karena memang ajalnya sudah tiba. Apa yang diberitakan dan diberitahukan oleh Allah SWT pasti akan terjadi tidak mungkin tidak.

*Abu Laits as-Samarqandi* berkata, "Saya mendengar ada sebagian ulama tafsir Kawasan Samarqandi berkata, "Ketika ayat, (فَٱدْرَءُوا۟ عَنْ أَنفُسِكُمُ ٱلْمَوْتَ) _"maka tolaklah kematian dari diri kalian"_ turun, maka ada 70 orang dari kaum munafik mati.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login