SURAH ALI 'IMRAN 113-115

*ALI 'IMRAN (34)*

*ALI 'IMRAN 113-115*

*GOLONGAN YANG BERIMAN DARI KAUM AHLI KITAB DAN PAHALA AMAL PERBUATAN MEREKA*

*SEBAB TURUNNYA AYAT*

*Sebab Turunnya Ayat 113:*
*Ibnu Abi Hatim, Thabrani dan Ibnu Mindah* di dalam, _"ash'Shahaabah,"_ meriwayatkan dari *Ibnu Abbas r.a*., ia berkata, "Tatkala Abdullah bin Salam, Tsa'labah bin Sa'nah (atau Sa'yah), Asid bin Sa'nah (atau Sa'yah), Asad bin Ubaid masuk Islam dan beberapa orang dari Kaum Yahudi yang masuk Islam bersama mereka, lalu mereka beriman, membenarkan dan berusaha membuat orang lain senang untuk masuk Islam, maka para pendeta Yahudi dan orang-orang kafir dari kaum Yahudi berkata: "Tidak beriman kepada Muhammad dan mengikutinya kecuali orang-orang yang jelek dan hina di antara kami. Karena seandainya mereka adalah orang-orang baik di antara kami, maka tentunya mereka tidak akan meninggalkan agama nenek moyang mereka untuk memeluk agama yang lain". Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini. Riwayat yang sama juga disebutkan dari Muqatil. 



Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a', ia berkata:

أَخَّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً صَلَاةَ الْعِشَاءِ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ، فَقَالَ: «أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ الْأَدْيَانِ أَحَدٌ يَذْكُرُ اللَّهَ فِي هَذِهِ السَّاعَةِ غَيْرُكُمْ» فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَاتُ: {لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ...} إِلَى قَوْلِهِ: {وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ}

_"Suatu ketika, Rasulullah saw. mengakhirkan shalat 'isya', kemudian beliau keluar menuju ke masjid, dan ternyata waktu itu orang-orang sedang menunw untuk menunaikan shalat bersama beliau. Lalu beliau berkata, "Ketahuilah, bahwa tidak ada seorang pun dari para pengikut agama-agama ini yang berdzikir kepada Allah SWT pada waktu seperti ini kecuali hanya kalian. Lalu turunlah ayat 113 sampai ayat 115 surah Ali 'Imran."_

Ada riwayat yang hampir sama dari Ibnu Mas'ud r.a,, ia berkata, 'Ayat ini turun berkenaan dengan shalat 'isya' yang ditunaikan oleh kaum Muslimin, sedangkan orang-orang selain mereka dari kaum Ahli Kitab tidak menunaikannya.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Keadilan Allah SWT tidak menghendaki selain memunculkan dan mengangkat orang-orang baik dan pilihan serta menyingkirkan orang-orang jelek dan jahat. Oleh karena itu, di dalam ayat-ayat ini, Allah SWT menguatkan sebutan, pujian dan sanjungan terhadap keimanan orang-orang Mukmin yang berasal dari kelompok Ahli Kitab. Mereka beriman kepada Islam, membenarkan Al-Qur'an dan meneguhkan pendirian mereka terhadap Islam.

Mereka mengerjakan amal-amal saleh, mereka memperbaiki diri mereka, berusaha memperbaiki diri orang lain dan berjuang melawan dakwah-dakwah kesesatan dan penyimpangan. Sehingga mereka berhak mendapatkan gelar orang-orang saleh. Pemberian gelar orang saleh merupakan tujuan dari pujian dan sanjungan terhadap mereka.

Hal ini seperti puiian Allah SWT terhadap Nabi Isma'il a.s., Nabi Idris a.s., dan Nabi Dzulkifli a.s. dengan menyebutkan sifat kesalehan ini untuk mereka di dalam ayat, 

_"Kami telah memasukkan mereka kedalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh."_ *(al-Anbiyaa': 86)*

*Allah SWT berfirman tentang Nabi Sulaiman a.s.:*

_"dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh"._ *(an-Naml: 19)*

Ini merupakan sebuah keharusan bagi setiap manusia yang berakal di dalam kehidupan ini. Karena sebuah kehidupan tidak akan ada nilainya sama sekali tanpa adanya akidah yang benar, tidak ada peradaban yang benar bagi manusia tanpa adanya amal saleh dan usaha memerangi dan melawan segala bentuk kejelekan dan kesesatan. Orang yang saleh dan beramal baik akan mendapatkan buah pahala amalnya dan akan diberi pahala secara utuh dan melimpah, ia akan disyukuri oleh Tuhannya dan pahalanya tidak akan diingkari. Di dalam sebuah ayat yang lain, Allah SWT menyebut pemberian pahala kepada orang-orang yang beramal saleh sebagai bentuk pensyukuran kepada mereka atas amal baik yang mereka lakukan, _"maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya disyukuri (dibalasi dengan baik)"._ *(Al Israa': 19)*

Di dalam ayat yang lain pula, Allah SWT menyebut Diri-Nya dengan sebutan _Syaakiran_ (Dzat Yang Maha Mensyukuri),

_"maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui"_ *(al-Baqarah: 158)*

Dan di dalam ayat ini, Allah SWT menyebut kondisi tidak memberi pahala dengan sebutan al-Kufru, yaitu pada ayat, ( فَلَن يُكْفَرُوهُ ۗ).===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login