SURAH AL-BAQARAH 208 - 212

AL-BAQARAH (63)

AL BAQARAH 208 - 212

*SERUAN UNTUK MENERIMA ISLAM DAN MENGIKUTI HUKUM-HUKUMNYA, SERTA SANKSI BAGI PELANGGAR* 

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةًۭ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ ٢٠٨
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

فَإِن زَلَلْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْكُمُ ٱلْبَيِّنَـٰتُ فَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ٢٠٩
Artinya: Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّآ أَن يَأْتِيَهُمُ ٱللَّهُ فِى ظُلَلٍۢ مِّنَ ٱلْغَمَامِ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَقُضِىَ ٱلْأَمْرُ ۚ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرْجَعُ ٱلْأُمُورُ ٢١٠
Artinya: Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan #1, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.
#1 - "Naungan awan" bersama malaikat biasanya mendatangkan hujan yang artinya rahmat, tetapi rahmat yang diharap-harapkan itu tidaklah datang melainkan azab Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā-lah yang datang.

سَلْ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ كَمْ ءَاتَيْنَـٰهُم مِّنْ ءَايَةٍۭ بَيِّنَةٍۢ ۗ وَمَن يُبَدِّلْ نِعْمَةَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ ٢١١
Artinya: Tanyakanlah kepada Bani Isrā`īl, "Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) #2 yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka". Dan barang siapa yang menukar nikmat Allah2 setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.
#2 - Yaitu tanda-tanda kebenaran yang dibawa nabi-nabi mereka, yang menunjukkan kepada keesaan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, dan kebenaran nabi-nabi itu selalu mereka tolak.

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۘ وَٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ فَوْقَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍۢ ٢١٢
Artinya: Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.

*SEBAB TURUNNYA AYAT*

Ayat 208 turun sehubungan dengan Abdullah bin Sallam dan rekan-rekannya dari kaum Yahudi tatkala mereka mengagungkan hari Sabtu dan tidak mau makan daging unta setelah mereka masuk Islam. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, hari Sabtu adalah hari yang kami agungkan, maka biarkanlah kami tetap menjaga perintah hari Sabtu. Taurat adalah Kitabullah, maka izinkanlah kami menunaikan ajarannya pada malam hari.,, Maka turunlah ayat: _"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya.,'_ Ini adalah riwayat Ibnu Jarir dari Ikrimah.

Sementara itu Atha' meriwayatkan dari Ibnu Abbas: Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Sallam dan rekan-rekannya. Ceritanya begini: Setelah mereka beriman kepada Nabi saw., mereka mengimani syariat beliau dan syariat Musa, maka dari itu mereka mengagungkan hari Sabtu dan tidak mau mengonsumsi daging unta dan susunya setelah mereka masuk Islam. Kaum muslimin mencela tindakan mereka itu, tapi mereka berkata, "Kami sanggup menjalankan ajaran Islam dan ajaran Musa." Dan mereka berkata kepada Nabi saw, "Taurat adalah Kitabullah, maka biarkanlah kami menalankan ajarannya." Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat ini.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Islam adalah satu kesatuan yang tak dapat dibagi-bagi. Barangsiapa beriman kepadanya, maka ia wajib menerimanya secara keseluruhan, tidak memilih bagian yang disukainya saja dan meninggalkan bagian yang tak disukainya, atau menggabungkannya dengan agama lain, sebab Allah Ta'ala memerintahkan kita mengikuti semua ajaran-Nya dan menjalankan seluruh kewajiban-Nya, menghormati segala aturan-Nya, yang menghalalkan maupun yang mengharamkan. Itu adalah bukti keimanan yang benar kepada-Nya. Apalagi syariat Islam menghapus syariat-syariat samawi sebelumnya jika syariat-syariat itu bertentangan dengannya. Memilih selain jalan ini terhitung sebagai mengikuti langkah-langkah dan bujuk rayu serta tipu daya setan.

Ayat (فَإِن زَلَلْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْكُمُ ٱلْبَيِّنَـٰتُ) menunjukkan bahwa hukuman orang yang tahu tentang dosa lebih besar daripada hukuman orang yang tidak tahu tentangnya, dan orang yang belum mendapat seruan/dakwah kepada Islam tidak terhitung kafir gara-gara meninggalkan syariat. 

Ayat (هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّآ أَن يَأْتِيَهُمُ ٱللَّهُ) menunjukkan tempat kembalinya para penenang Islam atau para pendurhaka adalah kebinasaan dan adzab, dan itu adalah sesuatu yang pasti dan tak terelakkan. Setiap manusia yang berakal memperkirakan datangnya akibat ini, dan inilah pula yang dikaakan Al-Qur'n, di mana Allah Ta'ala menyatakan: Tiada yang mereka nanti-nantikan kecuali kedatangan Allah Ta'ala dengan memperlihatlan suatu perbuatan terhadap sebagian makhluk-Nya yang bertujuan untuk memberi balasan dan putusan terhadap mereka. Sebagaimana Allah mengadakan suatu perbuatan yang disebut-Nya "turun" dan _istawaa_. Dia mengadakan pula sebuah perbuatan yang disebut-Nya "datang". Perbuatan-perbuatan-Nya terwujud tanpa alat maupun alasan. Mahasuci Dia! Sangat banyak bukti-bukti yang mengajak manusia agar mengikuti kebenaran dan Islam. Oleh karena itu, Bani Israel disodori pertanyaan yang bernada kecaman: "Berapa banyak sudah mereka menyaksikan mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Musa a.s., seperti: pembelahan laut, naungan awan, tongkat tangan, dan sebagainya?" Hal ini sebagaimana dikatakan Mujahid, Hasan al-Bashri, dan lain-Iain. Sebagian ulama lain berkata: Maksud ayat tersebut adalah "Berapa banyak sudah mereka melihat ayat dan bukti yang menunjukkan kenabian Muhammad saw.?" Tiada halangannya menggabungkan kedua penafsiran ini, seperti yang saya lakukan. Kalau mereka mengganti isi kitab-kitab mereka dan mengingkari kenabian Muhammad saw.-demikian pula halnya setiap orang yang mengganti nikmat Allah dengan keingkaran-, maka bagi mereka siksa yang berat.

Adapun kaum materialis yang kafir; yang terpesona dengan dunia, yaitu para pemimpin Quraisy dan orang-orang yang seperti mereka, yang mana mereka membeda-bedakan manusia atas dasar kekayaannya serta mencemooh kaum mukminin yang miskin, dan barometer mereka adalah materi belaka, serta mereka berpaling dari akhirat gara-gara mengutamakan dunia, maka sesungguhnya mereka itu manusia yang berpandangan pendek, sebab Allah menjadikan apa yang ada di permukaan bumi ini sebagai hiasan dengan tujuan untuk menguji siapa di antara makhluk-Nya yang paling baik amalnya, di samping karena mereka tidak mempercayai selain dunia. Adapun orang-orang beriman, yang berpegang teguh kepada hukum-hukum syariat, tidak terpukau dengan keindahan dunia, dan kelak mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang kafir sebab mereka di surga, sedangkan orang-orang kafir di neraka dan mereka akan menerima balasan atas cemooh mereka terhadap orang-orang beriman. *Allah Ta'ala berfirman:*

_"Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman yang menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas memandang. Apakah orang-orang kafir itu diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang telah mereka perbuat!"_ *(al-Muthaffifiin: 34-36)*

Ali r.a. meriwayatkan bahwa *Nabi saw. pernah bersabda:*

_"Barangsiapa merendahkan seorang mukmin/mukminah atau menghinanya karena kemiskinannya, niscaya Allah akan membuka dan menyiarkan aibnya pada hari Kiamat. Dan barangsiapa memfitnah seorang mukmin/mukminah, niscaya Allah akan memberdirikannya di atas bukit api pada hari Kiamat hingga ia menarik Kembali fitnahnya. Sesungguhnya diri seorang mukmin lebih agung dan mulia di sisi Allah daripada seorang malaikat. Tiada yang lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin/mukminah yang bertobat. Dan seorang mukmin dikenal di langit sebagaimana seseorang mengenali keluarga dan anaknya."_

Namun, meski orang kafir layak menerima siksa di akhirat, sebagai bentuk keadilan dan rahmat-Nya Allah tidak menghalanginya memperoleh rezeki dan karunia-Nya yang dapat ia nikmati di dunia dan yang menjamin penghidupan dan kemuliaannya. Allah memberinya rezeki dan memberi rezeki pula kepada setiap hewan di muka bumi. Dia memberi manusia anugerah yang banyak tanpa memperhitungkan keimanan dan ketakwaan, maupun kekafiran dan kejahatannya. Atau, pemberian-Nya itu amat banyah tiada batasnya. Dia tidak memperhitungkan dalam memberi. Semua karunia-Nya tanpa perhitungan.

Adapun yang disertai perhitungan adalah balasan-Nya atas amal yang dikerjakan manusia. *Allah Ta'ala berfirman:*

_"sebagai balasan dan pemberian yang cukup banyak dari Tuhanmu."_ *(an-Naba': 36)*

Oleh karena itu, rezeki di akhirat bagi orang beriman yang bertakwa lebih banyak daripada rezekinya di dunia, dan ketika itulah orang beriman berbeda dari orang kafir di mana rezeki orang beriman itu bertambah dan langgeng di akhirat, sementara orang kafir tidak mendapat rezeki di sana, balasannya tidak lain adalah siksa di neraka. *Allah Ta'ala berfirman* tentang orang-orang beriman:

_"Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (pepohonan surga yang teduh) dan (di sekitar) mata air. Dan buah-buahan yang mereka sukai. (Katakan kepada mereka),'Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan apa yang telah kamu kerjakan'. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."_ *(al-Mursalaat: 41-44)*

Sedangkan tentang orang-orang kafir *Dia berfirman:*

_"Maka pada hari ini di sini tiada seorang teman pun baginya. Dan tidak ada makanan baginya kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa."_ *(al-Haaqqah: 35-37)*.===

Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login